22/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Felycia Manfaatkan Lerak untuk Modifikasi Lempung sebagai Penyerap Limbah

Felycia Manfaatkan Lerak untuk Modifikasi Lempung sebagai Penyerap LimbahSurabaya, KabarGress.Com – Indonesia adalah negara yang sangat diberkati dengan keanekaragaman hayati yang melimpah. Tersebar dari Sabang hingga Merauke berbagai keunikan tersendiri yang pada umumnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan atau bahan industri.

Dalam rangka Dies Natalis ke-54 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Felycia Edi Soetaredjo, Ph.D menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Pemanfaatan Limbah Biomassa untuk Pengolahan Air Limbah dan Energi”. Peraih anugerah peringkat ke-2 Dosen Berprestasi tingkat Kopertis VII Jawa Timur ini menyampaikan, “Indonesia merupakan negara yang sangat kaya, namun kenyataan yang dijumpai kerusakan alamnya sangat memprihatinkan.”

Semua proses yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari pasti menghasilkan limbah baik padat, cair, atau gas. Umumnya limbah dapat dinetralkan oleh alam, namun laju pertumbuhan penduduk yang cepat berdampak pula eksplorasi alam yang berlebihan serta perkembangan industri yang pesat. Akibatnya adalah perubahan lingkungan, khususnya air dan udara yang berpengaruh buruk pada kesehatan manusia.

Menurut Felycia, pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan bermacam cara, salah satunya adsorpsi/teknik penyerapan yang di kenal sebagai teknologi paling efektif untuk menghilangkan zat berbahaya dari lingkungan air. Adsorben atau penyerap biasanya menggunakan karbon aktif, namun harganya mahal. Alternatifnya adalah tanah liat atau tanah mineral, biomassa, komposit, bio-char, dll. “Kelompok penelitian kami menemukan salah satu kunci sukses penerapan adsorben murah dalam pengolahan air limbah industri adalah daur ulang,” ujar Felycia.

Tanah liat dan mineral lempung sangat berpotensi untuk melestarikan lingkungan hidup, karena menunjukkan kapasitas daya serap yang besar. Stabilitas mekanik dan kimia dari tanah liat dan mineral lempung bersifat baik serta murah dan mudah diperoleh dalam jumlah besar. Masalahnya, penggunaan bahan kimia untuk modifikasi tanah liat dan mineral lempung sering menimbulkan masalah yang lebih serius terhadap lingkungan serta butuh sistem pengolahan limbah yang mahal untuk bahan kimia yang tak terpakai atau berlebih.

“Kami berusaha mengarahkan pada aplikasi bahan kimia yang ramah lingkungan sebagai agen modifikasi. Kelompok kami mempelajari penggunaan surfaktan (pengikat) alami sebagai agen modifikasi. Salah satunya dengan penggunaan rarasaponin yang diekstrak dari Sapindus Rarak DC (lerak). Bahan yang biasanya digunakan untuk mencuci kain batik ini ternyata bermanfaat untuk mengubah permukaan tanah liat/ lempung serta meningkatkan daya serapnya,” ungkap Felycia.

“Selain masalah lingkungan, ada juga masalah dalam keterbatasan energi. Selama ini kita terlalu bertumpu pada minyak bumi dan gas alam yang terbatas dan tak dapat diperbarui. Oleh karena itu kami ambil bagian pula dalam penelitian di bidang energi terbarukan. Kami di Jurusan Teknik Kimia UKWMS beritikad untuk memanfaatkan limbah untuk mengolah limbah. Prinsip zero waste product yang kami terapkan ternyata memberikan beberapa hasil penelitian yang mengejutkan. Misalnya dalam pengolahan air limbah, kita bisa memanfaatkan limbah padat sebagai adsorben. Selain itu biomassa yang merupakan limbah padat pertanian atau perkebunan sangat berpotensi sebagai sumber energi terbarukan,” urai Felycia dalam orasinya.

Penggunaan biomassa sebagai sumber energi sangat menarik karena merupakan sumber energi yang tingkat karbondioksidanya nol, sehingga tidak menimbulkan peningkatan emisi gas rumah kaca. Hasil pembakarannya akan sama dengan pembakaran bahan bakar fosil, namun dapat digunakan kembali oleh tanaman untuk berfotosintesis. (ro)