03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Balitbangkes: Tantangan Besar Mensinergikan Jamu dengan Kesehatan Formal

Balitbangkes- Tantangan Besar Mensinergikan Jamu dengan Kesehatan FormalSurabaya, KabarGress.Com – Dalam rangkaian Dies Natalis ke 50 Tahun Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FF UKWMS) kembali mengadakan Seminar Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia (POKJANAS TOI) ke-47. Bertempat di Galaxy Mall Exhibition Hall, FF UKWMS bekerjasama dengan Pusat Penelitian Obat Tradisional (PPOT) mengambil tema Pemanfaatan Teknologi Nano: Tanaman Obat Untuk Produk Jamu, Kosmetika dan Suplemen Kesehatan. Acara yang dihadiri oleh mahasiswa FF UKWMS, Peneliti, Dewan Pembina dan Anggota POKJANAS TOI tersebut mencoba menggali lebih jauh mengenai nano teknologi sebagai upaya “modernisasi” jamu.

Materi pertama disampaikan oleh Dra. Endang Pujiwati, Apt.,MM sebagai Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Obat Tradisional, Kosmetika dan Produk Komplemen. Dalam presentasinya Endang yang mewakili Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memaparkan materi Kebijakan Pengembangan Obat Tradisional Kosmetika dan Suplemen Kesehatan di Indonesia. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat potensial sebagai produsen jamu.

“Jangan sampai kita menjadi tempat sampah obat-obat luar negeri, padahal kita juga punya standar yang tinggi. Miris rasanya ketika harus mengimpor produk yang bahan bakunya dari Indonesia, sedangkan kita bisa meningkatkan ekspor dengan sumber daya tersebut,” papar Endang.

Upaya pemerintah Indonesia untuk mendukung pemanfaatan obat tradisional juga terus dimaksimalkan melalui beberapa cara. Antara lain penyusunan monografi tanaman obat, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan meningkatkan fasilitas layanan publik. Dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN tahun 2015, seluruh pihak terkait harus mempersiapkan produk Indonesia agar menjadi produk unggulan di kawasan ASEAN, yang diawali dari ketersediaan bahan, standar produksi yang jelas dan data-data keamanan.

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Prof. dr. Tjandra Yoga Adhitama Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE selaku Kepala Badan Litbangkes Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Membawakan materi Pemanfaatan Teknologi Nano Tanaman Obat Untuk Produk Jamu, Tjandra memaparkan pentingnya melakukan modernisasi jamu agar dapat dipergunakan dengan lebih mudah dan praktis.

“Nano teknologi menjadi solusi mengubah bentuk obat tradisional karena partikel kecil mudah masuk dan diserap lebih baik. Jika umumnya jamu hadir dalam bentuk mentah yang besar-besar, nano teknologi akan sangat membantu menyajikannya dalam bentuk yang lebih mudah diterima,” ujar Tjandra.

Lebih lanjut Tjandra mengharapkan adanya sinergi jamu dengan pelayanan kesehatan formal. Berdasarkan visinya, orang akan senang kembali ke alam dan menggunakan produk alami. Penggunaan obat tradisional dengan obat berbahan aktif sudah harus diintegrasikan dengan baik. Terkait dengan dunia farmasi secara luas Tjandra menyatakan, ”Ilmu pengetahuan akan terus berkembang sehingga semua pendekatan baru akan bermanfaat termasuk nano teknologi ini. Harapannya adalah pengembangan ilmu harus mengikutkan etika dan nilai luhur di dalamnya”. (ro)