03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Suhu Bingo Tanuwijaya: Jokowi Harus Tetap dengan Komitmennya, Jangan Mau Diintervensi

Suhu Bingo
Suhu Bingo

Surabaya, KabarGress.com – Suhu Yusuf Bingo Tanuwijaya, suprantural yang juga pakar hongsui fengsui, banyak menyampaikan pesan pada Presiden terpilih, Joko Widodo alias Jokowi. Diantaranya, Jokowi harus mampu mengatasi berbagai persoalan, tegas, dan jangan mau diinvertensi.

Menurut Suhu Bingo, seseorang bisa menjadi Presiden pertama karena kehendak Allah SWT, kedua nasibnya mujur, ketiga karena pilihan rakyat, dan keempat harus memahami sumpah jabatan jadi pemimpin bangsa/negara. “Seorang pemimpin harus mengerti dan memahami situasi kondisi negara dan rakyatnya. Sekarang Jokowi jadi Presiden, pimpinan tertinggi negara yang sudah carut marut, makanya harus memahami situasi dan kondisi rakyatnya,” kata Suhu saat ditemui di kediamannya di Surabaya, Kamis (4/9/2014).

Seorang pemimpin harus memunyai power/kekuatan besar untuk mengendalikan keadaan yang tidak baik menjadi baik. Harus tegas, berani, arif bijaksana, dan tidak gampang terintervensi oleh siapapun. Perlu diketahui, masih menurut Suhu, di negara-negara lain atau negara tetangga masalah korupsi hukumnya mati dan hartanya disita dijadikan miskin. Itu siapapun sudah tahu. Tapi di negara kita korupsi kelas kakap hukumannya ringan. Inipun semua orang sudah tahu.

Masalah Century dan lumpur Lapindo dari dulu hingga sekarang belum tuntas. Ribuan takyat jadi korban, sementara koruptornya senyum-senyum menertawakan hukum. Dan masih banyak kasus-kasus besar yang menunggu untuk dituntaskan. Sekarang tugas berat Jokowi dan Yusuf Kalla, apakah sanggup menyelesaikan masalah-masalah itu? Belum lagi soal BBM dan yang kecil-kecil seperti pangan, pertanian dan macam-macam lainnya.

Menurut Suhu, Jokowi memliki Shio Kerbau, dan wakilnya Yusuf Kalla Shio Kuda. Keduanya tidak bisa seiring sejalan, dan dalam perjalanan pemerintahan mereka akan banyak perbedaan pendapat.

Suhu banyak menyoroti masalah korupsi yang katanya sudah jadi penyakit negeri ini. “Semestinya koruptor dihumum mati, karena sudah menipu dan memakan uang rakyat,” tegasnya.

Demikian pula untuk pelaku gratifikasi, juga perlu dihukum mati.

Lebih dari itu, mengetahui para pejabat negeri ini banyak yang tidak takut hukuman melakukan tindak pidana korupsi maupun gratifikasi, Suhu mengusulkan hukum di negeri ini perlu direvisi. “Hukumnya harus dibenahi jadi benar-benar hukum, jangan hukum-hukuman. Negara dan bangsa baru bisa makmur kalau tidak ada koruptor,” timpalnya.

Suhu tidak sependapat kalau Jokowi sampai berhenti di tengah jalan, apalagi terus digantikan oleh JK. “Karena sudah dipilih rakyat, ya Jokowi harus mampu. Mintalah kekuatan dan petunjuk pada Allah SWT. Karena itu, Suhu pesan agar Jokowi memilih kabinet yang pintar dan bisa dipercaya. Kalau Jokowi turun jabatan di tengah jalan, kemudian JK naik jadi presiden, kondisi akan tambah parah,” wanti-wantinya.

Menurut Suhu, Jokowi juga telah mengalami perubahan perilaku setelah dinyatakan menang dalam Pilres. Memang, kekuasaan, jabatan dan harta bisa merubah perilaku seseorang. Jokowi sekarang terlihat sombong, suka mencibir dan menyindir lawan-lawan politiknya. “Jokowi, demikian pula JK, tidak boleh sombong. Jokowi dan JK mustinya harus menganut ilmu padi, makin berisi makin merunduk, tidak sombong,” imbuh Suhu. (Ery)