03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Ibu-Ibu Muslimat Tangkal ISIS dengan Pengajian

• KH Qomari: Nek Mbelo Islam Jangan Cara Tidak Benar!

KH Qomari, Kedunggalar NgawiBarangkali inilah cara-cara untuk membela Islam. Seperti dilakukan Ibu-ibu Muslimat Desa Ploso Kec. Kendal, menangkal gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) melalui pengajian. “Dalam beribadah, ibu-ibu Muslimat, bapak-bapak wis nggak usah neko-neko. Nek neko-neko masalah yang dihadapi kayak terjadi di Timur Tengah, kayak terjadi di Mesir,” tutur KH Qomari, Kedunggalar Ngawi, di hadapan ratusan muslimat dan warga Ploso, Minggu (24/8) malam.

Memang jaman sekarang banyak gerakan yang dilakukan oleh umat Islam di berbagai negara. Gerakan-gerakan itu justru membingungkan umat. Boleh saja umat Islam melakukan gerakan tetapi gerakan itu harus sesuai tuntunan agama Islam. Jangan sampai melakukan kegiatan melenceng dari ajaran Islam, tidak sesuai dengan rel yang telah diperintahkan Alloh dan tuntunan para Nabi.

“Arep mbelo Islam, jangan dengan cara yang tidak benar, Ini salah. Para ulama pendiri negara ini beribadah dan berjuang dengan cara yang benar, sesuai ajaran Islam yang benar,” kata Qomari.

Karena itu, Kyai yang sudah berceramah di berbagai penjuru itu, mengajak umat Islam dan antar umat beragama menjaga kerukunan dan meningkatkan kebersamaan dalam hidup bermasyarakat. Apalagi dalam suasana memperingati Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), umat Islam dan seluruh warga Indonesia wajib hukumnya untuk mensyukuri kemerdekaan yang sudah 69 tahun ini. Kewajiban umat adalah mempertahankan kemerdekaan, persatuan dan kesatuan bangsa di bawah NKRI, Pancasila dan UUD1945.

“Bersyukur kita sudah merdeka. Kita harus cinta pada tanah air ini. Karena cinta tanah air bagian dari iman. Kita wajib meningkatkan kebersamaan dan kerukunan, saling menghormati sesama umat,” ujarnya.

Menurut Qomari, para pendiri bangsa ini bersepakat menginginkan dasar negara adalah Pancasila. Apabila ada kelompok yang ingin mengubah negara ini jadi negara Islam (daulah Islamiyah), itu artinya kelompok itu mengingkari cita-cita para pendiri bangsa.

Padahal para pendiri bangsa itu juga para ulama dan dalam menentukan bentuk negara ini para ulama juga melakukan sholat istikharoh memohon petunjuk Alloh SWT. Dan generasi sekarang tinggal mengisi dan memelihara kemerdekaan ini. Kalau mau ambil gambaran di negara-negara di timur tengah, banyak negara Islam tetapi kenyataannya negara tersebut selalu kacau, tidak aman dan saling bermusuhan antar saudara. Contoh Mesir, Irak, Suriah (Syria) dan lainnya.

Pengajian berlangsung di halaman MIN Ngamban adalah rangkaian pelaksanaan halal bihalal ibu-ibu muslimat dan warga Desa Ploso. Hadir Kepala Desa Ploso, para kyai dan tokoh masyarakat setempat. Diselingi Grup Qosidah Tombo Ati.

Qomari dalam ceramahnya selalu membuat terpingkal-pingkal jamaah menegaskan, sekarang umat Islam menghadapi berbagai masalah. Ujung-ujungnya umat Islam bengkerengan sendiri, karena mereka masing-masing fanatik pada pahamnya, dan merasa pahamnya benar sendiri. “Kuncinya jangan membahas pahamnya orang lain, jangan mengolok-olok paham orang lain. NU beribadah dengan caranya sendiri, Muhammadiyah juga begitu,” ujarnya.

Lebih gamblang dicontohkan, jangan memaksakan paham atau melarang atas paham orang lain. “Sing ora gelem bancakan yo nggak usah bancakan. Sing gelem bancakan yo ben bancaan. Sing orang gelem tahlil yo ojok tahlil. Ojok malah sing orang gelem tahlil melarang wong sing gelem tahlil. Maneh, wong sing ziarah kubur yo ojok diuthik-uthik. Yo ben ziarah kubur. Nanging sing ziarah kubur nek dongo yo kudu sing bener. Dongakne wong sing dikubur supoyo doso-dosone sing dikubur diampuni karo Gusti Alloh. Ojok malah njaluk dongo karo sing dikubur. Wong sing dikubur wis meninggal iku wis ora isok dijaluki opo-opo. Wong mati itu sing diraksake ngadepi malaikat, yo ojok dijaluki tulung. Iku musyrik, ” tuturnya. (*)

Teks foto: Suasana pengajian diselenggarakan Ibu-ibu Muslimat.