27/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Transaksi Non Tunai di Jatim Terus Meningkat

Direktur Kemahasiswaan Drs Eko Supeno MSi dan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur, Hamid Ponco Wibowo.
Direktur Kemahasiswaan Drs Eko Supeno MSi dan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur, Hamid Ponco Wibowo.

Surabaya, KabarGress.Com – Perkembangan Sistem Pembayaran non Tunai Nasional Triwulan II 2014 Transaksi non tunai secara nasional (kliring, RTGS, uang elektronik, kartu kredit, kartu ATM/debet) pada triwulan II 2014 sebesar Rp24.748 triliun, meningkat 1,13% dibandingkan triwulan I 2014 yang sebesar Rp24.472 triliun. Peningkatan transaksi non tunai tersebut terjadi pada transaksi kliring, RTGS, uang elektronik, kartu kredit, kartu ATM, dan kartu ATM/Debet dengan terbesar pada kartu kredit (11,95%), uang elektronik (11,23%), dan kartu ATM/debet (7,29%).

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur, Hamid Ponco Wibowo, menerangkan transaksi non tunai di Jawa Timur pada triwulan II 2014 untuk transaksi kliring sebesar Rp62,18 triliun, meningkat 9,36% dibandingkan triwulan I 2014 yang sebesar Rp56,86 triliun. Demikian pula transaksi RTGS pada triwulan II 2014 sebesar Rp463,53 triliun, meningkat 35,49% dibandingkan triwulan I 2014 yang sebesar Rp342,13 triliun.

“Peningkatan transaksi non tunai baik di Jawa Timur maupun nasional menunjukkan bahwa terjadi pergeseran pola kebiasaan masyarakat dalam melakukan transaksi, dari pembayaran secara tunai menjadi non tunai. Meski demikian, Bank Indonesia merasa perlu lebih meningkatkan lagi transaksi non tunai. Untuk itu Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2014 mencanangkan GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai),” ujarnya saat konferensi pers di Unair, Kamis (21/8/2014).

Pencanangan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Jakarta ditandai dengan penandatangan nota kerjasama 3 bank BUMN yaitu Bank Mandiri, BNI, dan BRI pada tanggal xxxxx, sehingga produk kartu ke 3 bank tersebut akan dapat digunakan pada EDC dari ketiga bank. Kerjasama ini berupa penyatuan infrastruktur transaksi non tunai berupa EDC Link yang akan menghubungkan 50 juta nasabah ke 3 bank tersebut. Dengan kerjasama ini maka biaya bank, merchant, dan nasabah dapat ditekan menjadi lebih efisien. Kerjasama ini pada tahap awal akan diterapkan pada 10 merchant besar di Indonesia, dan selanjutnya secara bertahap akan terjadi pergantian EDC yang lama menjadi EDC Link.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Drs Eko Supeno MSi, mengatakan ada 7 ribu mahasiswa Unair yang akan mendapatkan literasi penggalakan penggunaan transaksi non tunai. “Kalau di Universitas Indonesia sudah berjalan kantin yang membayarnya pakai non tunai, kami berharap suatu saat hal itu juga akan berjalan di Unair,” tandasnya.

Dalam kaitan ini, lanjut Eko, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya akan memecahkan rekor MURI untuk 6.060 tanaman produktif dalam galon pada pembukaan Dies Natalis ke-60 pada 30 Agustus yang juga ditandai dengan kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) oleh Bank Indonesia (BI) Wilayah IV Jawa Timur.

“Itu merupakan program penghijauan yang melibatkan 7.000-an mahasiswa baru yakni 6.060 mahasiswa membawa tanaman dalam galon dan sisanya adalah mahasiswa yang memainkan konser musik galon. Nantinya, BI akan mencanangkan GNNT dalam pembukaan dies natalis itu,” terang Eko.

Pencanangan GNNT di Unair itu akan diawali dengan sosialisasi uang elektronik di kantin kampus, sehingga kantin kampus nantinya akan menggunakan sistem pembayaran dengan mesin EDC seperti layaknya di pasar swalayan. “Bukan soal nilai transaksi dengan mesin EDC yang mungkin kecil untuk skala kantin, tapi hal itu penting untuk manajemen Unair, karena transaksi dengan sistem elektronik akan memudahkan kontrol keuangan, sehingga Unair akan diuntungkan, sebab semua transaksi berlangsung transparan,” tuturnya.

Sosialisasi uang elektronik akan dilakukan pada pameran produk UKM di Gedung ACC Unair pada 26-28 Agustus, kemudian pencanangan akan dilakukan bersamaan pembukaan Dies Natalis ke-60 Unair pada 30 Agustus. “Saat pembukaan itu, 6.060 mahasiswa yang membawa tanaman dalam galon akan membentuk konfigurasi huruf LCS yang merupakan akronim dari Less Cash Society atau Komunitas Non-Tunai. Pembentukan konfigurasi itu diiringi musik galon yang dimainkan sekitar 1.000 mahasiswa yang disebut ‘Musik Galon Specta GNNT’,” pungkasnya. (ro)