Daihatsu Didik SMK di Jatim Tingkatkan Kompetensi

Kepala Diknas Jatim, Harun (nomor 3 dari kiri), memberikan keterangan kepada awak media terkait sinergi Daihatsu dengan dunia pendidikan di Jatim, menyambut implementasi AFTA 2015.

Kepala Diknas Jatim, Harun (nomor 3 dari kiri), memberikan keterangan kepada awak media terkait sinergi Daihatsu dengan dunia pendidikan di Jatim, menyambut implementasi AFTA 2015.

Surabaya, KabarGress.Com – Pasar bebas ASEAN 2015 sudah di depan mata, namun kualitas tenaga kerja Indonesia masih belum bisa bersaing dengan tenaga kerja asing sehingga banyak pengusaha yang mengeluhkan kondisi ini. “Dari data yang diperoleh Bank Dunia pada Juni 2014, sebanyak 70 persen manajer di Indonesia tidak bisa memperoleh tenaga kerja yang memiliki keahlian bagus,” demikian ungkap mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, di sela-sela tampil sebagai pembicara dalam seminar Sinergi Daihatsu dengan Dunia Pendidikan Menyongsong AFTA 2015, di kantor Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim), Kamis (14/8/2014).

Menurut Wardiman, kondisi kurang siapnya tenaga kerja Indonesia ini juga terlihat dengan rencana pendirian pabrik perakitan mobil Volkswagen (VW) di Gresik yang terpaksa terhenti. “Dari analisa yang dilakukan, kondisi tersebut terjadi karena kesulitan mendapatkan tenaga kerja sesuai kualifikasi. Pabrik yang akan dibangun di Gresik ini lebih besar dari Jakarta. Cuma sekarang mandeg karena sulit memperoleh tenaga kerja,” tuturnya.

Dia menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi atensi yang serius dari pemeirntah. Jika tidak, maka saat pasar bebas terjadi maka tenaga kerja lokal akan terpinggirkan. “Indonesia akan dikuasai tenaga-tenaga asing karenanya kita harus serius membina ini. Jangan sampai mengambil 10 tenaga Jatim, luar negeri 10.000,” ingatnya.

Solusinya, dibutuhkan sinergisitas antara dunia pendidikan dengan industri. Sinergisitas ini bisa diwujudkan dengan menggandeng dunia usaha dalam program-program peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di sekolah menengah kejuruan (SMK). “SMK harus siap menyongsong pasar bebas ASEAN 2015 mendatang. Untuk itu perlu ada pendalaman soft skill, seperti ketepatan waktu, pemahaman kualitas serta sistem kerja yang baik.

Dalam kesempatan itu, Wardiman menyambut baik program PT Astra Daihatsu Motor yang menggandeng sejumlah SMK di Jatim untuk peningkatan mutunya. Tahun ini ada dua SMK yang dipilih yakni SMKN Singosari, Kabupaten Malang serta SMK PGRI 3 Kota Malang. “Saya sebagai orang Jawa Timur berharap tidak hanya dua sekolah yang digendeng, kalau bisa ditingkatkan,” pintanya.

Sementara itu, HR Division Head PT Astra Daihatsu Motor, Joko Baroto, mengatakan seminar ini digelar di 5 Kota besar Indonesia, yakni Surabaya, Jakarta, Semarang, Bandung dan Medan. Dengan membahas kesiapan dunia Pendidikan menghasilkan lulusan siap pakai di dunia indusri menjelang implementasi AFTA 2015.

Implementasi ASEAN Free Trade Area (AFTA) akan melahirkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan konsekuensi seorang tenaga kerja dari negara anggota ASEAN dapat bekerja di negara anggota ASEAN lainnya tanpa hambatan hanya bermodal keterampilan (skíll) dan keahlian (expertise).

Daihatsu bersama Dinas Pendidikan sejumlah Provinsi menyusun Kurikulum SMK serta mengimpletasikan di sejumlah SMK Binaan. Kurikulum tersebut membekali guru dan siswa SMK dengan keterampilan dasar (basic skill) dan budaya industri (industrial culture). “Sudah ada 74 SMK yang menjadi binaan Daihatsu. Mereka yang mengajukan dan kami telah siap mendidik para guru maupun kepala sekolah SMK untuk lebih meningkatkan kompetensi dan menyiapkan soft skill maupun hard skill menyongsong implementasi pasar bebas ASEAN,” tegasnya.

Di program ini, Daihatsu mencoba menyinergikan antara kebutuhan industri dengan dunia pendidikan. Langkahnya dengan memasukkan program-program dalam kurikulum sekolah, kemudian memberikan pelatihan kepada guru-gurunya. Selanjutnya guru-guru ini yang akan mentraining ulang ke siswa. “Pendidikan ke guru lebih efektif, mereka bisa menularkan ke siswa masing-masing,” tukasnya.

Dari sistem ini, nantinya akan terjaring suatu rangkaian untuk mendapatkan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan jaman. Sebab, persaingan akan semakin berat dalam pasar bebas yang akan dihadapi mendatang.

Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Harun, mengatakan sinergi dengan dunia usaha sangat dibutuhkan. Apalagi, Jatim memiliki SMK yang sangat banyak dengan kualitas pendidikan baik dibandingkan daerah lain. “Jatim paling siap menerima kurikulum yang berbasis keterampilan,” tandas Harun. (ro)

Leave a Reply


*