03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Praktisi Supranatural Ki Sabdo Jagad Royo: Demi Kebesaran Indonesia Capres yang Kalah Sebaiknya Legowo

Ki Sabdo Jagad Royo
Ki Sabdo Jagad Royo

Suhu politik di negeri ini belum kembali normal. Anomali iklim politik masih labil, menyusul Relawan Merah Putih menggungat Komisi Pemilihan Umum (KPU) ke Mahkamah Konstitusi ( MK). Lalu, bagaimana dampaknya untuk Indonesia 5 tahun ke depan, berikut transkrip wawancara KabarGress.com dengan praktisi Supranatural Surabaya Ki Sabdo Jagad Royo.

Apa pendapat Anda Pilpres 9 Juli kemarin?

Ki Sabdo: Cukup bagus. Animo masyarakat untuk berpartisipasi menggunakan hak pilihnya cukup tinggi. Saya kira hal ini perlu diapresiasi. Sebab berbeda dengan Pilpres sebelumnya. Kalau dulu tingkat partisipasi politik masyarakat rendah ditandai masih banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Partisipasi politik publik meningkat ya?

Ki Sabdo: ya pastilah Pilpres dilaksanakan 9 Juli 2014 kita bisa melihat sendiri antusiasme masyarakat untuk menggunakan hak politiknya meningkat cukup tajam. Dan cukup bagus untuk Indonesia. Karena kesadaran politik rakyat sudah sedemikian baik.

Jika ditinjau dari ranah supranatural, pertanda apa ini?

Ki Sabdo: Menurut hemat saya meningkatnya kesadaran masyarakat dalam Pilpres kemarin, mengisyaratkan merindukan sebuah figur Presiden dan wakil Presiden yang mampu melakukan perubahan secara nyata dan signifikan. Sebab saat ini masih cukup banyak permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita yang belum mampu diselesakan.

Bisa disebutkan apa persoalan bangsa ini?

Ki Sabdo: Tentu cukup banyak dan saya kira kita semua tahu dan ikut merasakan. Misalnya, kinerja pelayanan birokrasi kita yang masih belum optimal. Hampir semua pejabat di birokrasi punya mental pingin dilayani, bukan melayani. Karena maunya dilayani itu kinerja birokrasi kita “lelet, lambat dan tidak maksimal dalam memberikan layanan kepada publik. Sehingga tingkat kepuasan publik atas layanan birokrasi kita masih lemah dirasakan masyarakat.

Menurut anda apa yang harus diperbaiki Presiden periode 2014-2019?

Ki Sabdo: Sebagaimana saya sebutkan tadi, soal kinerja layanan publik harus mampu ditingkatkan. Reformasi birokrasi harus mampu dijalankan. Berantas korupsi. Perlu secara konsisten dalam pelaksanaan rulle of the game dan law inforcement atau penegakan supremasi hukum. Pemerintahan ke depan harus mampu menegakkan hukum dan kepastian hukum secara adil, tanpa tebang pilih. Dengan demikian hukum tidak tajam di bawah tetapi tumpul di atas.

Bagaimana, apakah selama ini hukum belum dijalankan secara benar?

Ki Sabdo: Saya kira semua tahu lah ya, apa penegakan hukum telah sepenuhnya ditegakkan di atas Track yang benar. Tetapi fenomena yang mampu kita lihat meningkatnya masyarakat dalam Pilpres kemarin itu yang pasti menginginkan sosok pemimpin baru yang tidak saja seorang pemimpin jujur, tetapi juga profesional, tegas dan punya komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat negeri ini. Cakupan persoalan yang menjadi PR bagi pemimpin ke depan cukup banyak, dan menjadi materi cukup menarik untuk selalu menjadi bahan diskusi.

KPU digugat ke MK. Bagaimana peluang yang dimiliki Capres Prabowo, menurut penerawangan batin yang Anda lakukan?

Ki Sabdo: Berdasar penelusuran batin yang kerap saya lakukan di tiga tempat, pertama di Istana Merdeka, kedua di Sunan Bungkul dan Joko Dolog, gambar yang muncul capres nomor urut satu Prabowo. Jokowi, malah tidak muncul gambarnya pada saat saya melakukan investigasi secara batiniah. Itu artinya, kemungkinan Prabowo diterima gugatannya oleh MK masih cukup terbuka. Jika itu nanti yang terjadi di MK maka secara otomatis pelantikan Presiden terpilih bisa gagal dilaksanakan. Namun, dalam kesempatan ini saya menghimbau jika nanti upaya konstitusional dilakukan tidak seperti diharapkan, demi persatuan dan Indonesia damai, bagi yang kalah dalam sidang di MK yang mulai digelar Rabu (6/8) hingga 22 Agustus berbesar hati alias Legowo. (Eri)