23/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Juli, Jatim Alami Inflasi 0,48 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Timur, M. Sairi Hasbullah
Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Timur, M. Sairi Hasbullah

Surabaya, KabarGress.Com – Pada Juli 2014, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,48 persen atau lebih rendah dari inflasi nasional periode sama yang hanya 0,93 persen. Inflasi yang cukup rendah pada Juli tersebut membuktikan kinerja perekonomian Jawa Timur tidak terpengaruh adanya Pemilihan Presiden (Pipres dan bulan Puasa serta Lebaran 2014). “Kampanye hingga pelaksanaan Pilpres berlangsung di berbagai daerah di Indonesia tidak sampai menggoyahkan perekonomian di Jawa Timur. Hal ini terbukti inflasi di Jawa Timur masih dibilang rendah,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, M. Sairi Hasbullah, di kantornya, Senin (4/8/2014).

Selain itu, lanjut Sairi, inflasi Jawa Timur pada Juli 2014 yang tergolong rendah padahal bersamaan dengan bulan Puasa dan Lebaran. Rendahnya dan terkendalinya inflasi Jatim bulan lalu dikarenakan selama Puasa hingga mendekati Lebaran pemprov melalui Disperindag Jawa Timur melakukan Operasi Pasar (OP) bantuan ongkos angkut terhadap beras, gula pasir, minyak goreng dan tepung terigu.

Dengan OP empat bahan pokok tersebut sangat ampuh untuk mengendalikan inflasi selama Puasa hingga Lebaran. Pada Juli 2014 semua 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur, semuanya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Probolinggo 0,99 persen. Diikuti Sumenep 0,89 persen, Kediri 0,73 persen, Madiun 0,61 persen, Malang 0,49 persen , Surabaya 0,42 pertsen, Jember 0.41 persen, dan inflasi terendah di Banyuwangi 0,24 persen..

Inflasi pada Juli tersebut dikarenakan semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok sandang 1,12 persen. Kemudian bahan makanan 0,74 persen, makanan jadi, minuman dan rokok 0,60 persen, kesehatan 0,45 persen, dan transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,39 persen serta pendidikan, rekreasi, olahraga 0,24 persen inflasi terendah terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan 0,17 persen.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah naiknya harga daging sapi, beras, emas perhiasan, angkutan antar kota, tarif listrik, daging ayam ras, tariff kereta api, kendaraan carter/rental, rokok keretek filter dan tarif kendaraan travel.

Sementara komoditas yang harganya terkendali dan memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah turunnya harga cabe rawit, bawang putih, angkutan udara, buah jeruk, bawang merah, buah anggur, batu bata, ketela, telepon seluler, buah melon dan wortel.

Dari ibukota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi. Inflasi terendah terjadi di Surabaya 0,42 persen. Kemudian inflasi tertinggi terjadi di DKI Jakarta 1,17 persen disusul Jogjakarta 0,85 persen, Kota Serang Banten 0,84 persen, Bandung 0,74 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kota Semarang 0,62 persen.

Dari 82 kota IHK nasional semuanya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bengkulu 2,92 persen daan inflasi terendah terjadi di Maumere, Ambon, Palangkaraya, Banyuwangi dan Pematang Siantar Laju inflasi tahun kalender mulai Desember 2013-Juli 2014 Jawa Timur mencapai 2,66 persen. Sedangkan laju inflasi year on year Juli 2014 terhadap Juli 2013 Jawa Timur 4,01 persen. Angka tersebut lebih rendah dari pada inflasi year one year Juni 2914 sebesar 6,66 persen. (ro)