Inovasi Teknologi IB Pada Budidaya Domba Sapudi Sebagai Alternatif Pengganti Daging Sapi dan Pelestarian Sumberdaya Genetik Hewan Lokal Jawa Timur

Pemeriksaan sperma untuk menentukan kualitas semen. Foto kanan; Ir. Kusdiyarto, MM

Pemeriksaan sperma untuk menentukan kualitas semen. Foto kanan; Ir. Kusdiyarto, MM

Surabaya, KabarGress.com – Pembangunan Peternakan Provinsi Jawa Timur pada dasarnya memegang peranan penting dan strategis dalam membangun sektor pertanian. Khususnya dalam upaya perluasan kesempatan kerja, pemasukan devisa negara, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak dan keluarga petani peternak.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (Ka.UPT) Inseminasi Buatan (IB) Dinas Peternakan Prov Jatim, Ir. Kusdiyarto, MM, dalam kesempatan mendampingi Kepala Dinas (Kadis) Peternakan, Ir. H. Maskur, MM, secara detail menuturkan: Pembangunan sektor peternakan di Jatim dimaksud gagasannya ialah dalam kerangka mewujudkan peningkatan konsumsi protein hewani untuk peningkatan kecerdasan bangsa.

”Termasuk merupakan sumbangan langsung berupa kontribusi PDRB, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, perolehan devisa melalui ekspor maupun sumbangan tidak langsung seperti penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan subsektor dan sektor lainnya,” katanya.

Untuk itu imbuh Kusdiyarto, program jangka panjang perlu dilakukan impor bibit ternak berkualitas, pelestarian plasma nutfah ternak Jawa Timur seperti sapi Madura, sapi Jawa, domba Ekor Gemuk (EG), kambing Peranakan Ettawa (PE), itik Mojosari, dan perbaikan kualitas sapi Madura dilakukan melalui inseminasi buatan. ”Supaya program tersebut mencapai target perlu perbaikan managemen reproduksi, kualitas pakan dan sistem pemeliharaan; pengembangan  kemitraan ayam pedaging serta meningkatkan pengkajian-pengkajian bidang peternakan untuk memperoleh teknologi tepat guna bagi peternak pedesaan,” tambah dia.

Pemeriksaan kualitas semen

Pemeriksaan kualitas semen

Pendugaan umur melalui pertumbuhan gigi

Pendugaan umur melalui pertumbuhan gigi

Secara regional dalam memenuhi kebutuhan daging untuk masyarakat  Jawa Timur sudah tercukupi dari daging beberapa komoditas yaitu bahan asal ternak berupa daging sapi, kambing, domba, itik dan ayam (ras dan buras); sedangkan untuk kalangan tertentu (hotel berbintang dan restoran) yang membutuhkan daging kualitas tinggi masih dipenuhi dengan daging impor, namun secara nasional kebutuhan daging masih kurang.

Kebutuhan daging nasional saat ini cukup besar yakni mencapai 575.000 ton belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sementara prediksi produksi nasional baru mencapai 443.220 ton jadi masih ada kekurangan 131.780 ton.

Jawa Timur sebagai salah satu gudang ternak nasional berkeinginan untuk memberikan kontribusi dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional dan mendukung tercapainya ketahanan pangan nasional. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya pemanfaatan potensi populasi ternak Jawa Timur dalam peningkatan populasi, produksi, produktivitas dan mutu genetik ternak.

Domba EG merupakan sumberdaya genetik ternak lokal yang dimiliki Jawa Timur dan sebagai salah satu alternatif pengganti daging sapi, perlu diupayakan pengembangan dan budidayanya guna meningkatkan produksi dan produktivitas peternakan serta dilestarikan sebagai aset sumberdaya genetik ternak lokal Jawa Timur.

Menurut Kusdiyarto, latar belakang Domba EG yang ada di Jawa Timur ini diduga keras masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang-pedagang Gujarat, yakni orang-orang Persia pada abad ke 18, bahkan mungkin sebelum ini. Hal ini mempunyai alasan yakni kata domba adalah berasal dari bahasa Persia (Iran) yaitu dengan ejaan d u m b a yang artinya ekor, lantaran ekornya yang menarik perhatian, bentuknya yang unik, tebal, lebar, panjang, bahkan banyak yang berbentuk sigmoid.

Pemeriksaan libido calon pejantan

Pemeriksaan libido calon pejantan

Pengukuran lingkar scrotum.

Pengukuran lingkar scrotum.

Domba EG ini turun dari kapal para pedagang ini mendarat di daerah pesisir atau pantai utara Jawa Timur, para pedagang ini berdiam di wilayah Lamongan membentuk perkampungan Laren, dimana sekarang terbukti ada satu kecamatan di Kabupaten Lamongan bernama Kecamatan Laren. Adapun Laren ini adalah nama salah satu suku bangsa yang ada di Iran, sementara di Iran sana terdapat Kampung Jawi, ini merupakan petunjuk bahwa orang-orang suku Jawa dan suku Laren sudah ada hubungan, baik perdagangan dan atau menuntut ilmu agama Islam. Domba EG ini juga dikenal dengan nama Biri–biri dan juga Gibas, kedua kata ini adalah bahasa Arab.

Domba EG atau Domba Sapudi berkembang biak di Jawa Timur pada wilayah Karesidenan Madura yaitu di Pulau Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya serta di daerah-daerah pesisir atau pantai utara serta wilayah timur Provinsi Jawa Timur, seperti Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Malang, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi. Populasi Domba Sapudi pada tahun 2011 sebanyak 161.487 ekor atau sebesar 21,9% dari total populasi domba di Jawa Timur.

Domba EG atau Domba Sapudi merupakan sumberdaya genetik ternak lokal yang dimiliki Jawa Timur dan sebagai salah satu alternatif pengganti daging sapi, perlu diupayakan pengembangan dan budidayanya guna meningkatkan produksi dan produktivitas peternakan serta dilestarikan sebagai aset sumberdaya genetik ternak lokal Jawa Timur.

Salah satu karakteristik Domba EG adalah keberadaan ekornya yang besar ekornya yang besar dan berbentuk sigmoid. Ekor tersebut berisi lemak sebagai cadangan makanan (sumber energi) yang akan dipergunakan pada saat pakan sulit. Hal inilah yang menyebabkan Domba EG dapat bertahan hidup pada daerah yang tandus/kering.

Pengukuran Vital Statistik Ternak.

Pengukuran Vital Statistik Ternak.

Karakteristik ini sekaligus sebagai salah satu penghambat dalam perkembangan Domba EG, struktur anatomi ekor Domba EG yang besar menjadikan kesulitan pada saat proses perkawinannya mengingat selama ini dalam usaha budidaya Domba EG masih dilakukan secara konvensional dan belum dilakukan sentuhan teknologi khususnya sistem perkawinannya masih alami yakni kawin alam.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut diperlukan sentuhan inovasi teknologi yakni melalui bioteknologi Inseminasi Buatan (IB).

Meningkatnya jumlah penduduk, kondisi sosial ekonomi, pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat akan berdampak semakin meningkatnya kebutuhan pangan termasuk yang berasal dari ternak khususnya daging telur dan susu. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat harus diimbangi dengan tingkat produksi daging sehingga akan terjadi keseimbangan supply dan demand.

Dalam upaya mempertahankan keseimbangan supply demand kebutuhan pangan khususnya yang berasal dari produk peternakan diperlukan upaya-upaya peningkatan produksi hasil peternakan. Inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu bioteknologi reproduksi ternak yang sesuai dan cocok diterapkan dengan kondisi peternakan di Indonesia. Inseminasi berasal dari kata in yang berarti masuk atau memasukkan; kata semen berarti cairan yang mengandung sel kelamin jantan, media nutritif dan non-nutritif. Akhiran asi berarti proses atau kegiatan.

Inseminasi buatan telah lama dikenal dengan istilah kawin suntik yakni memasukkan semen ke dalam vagina (intra vagina) dengan menggunakan alat. Program IB merupakan program penerapan bioteknologi reproduksi yang bertujuan untuk meningkatkan populasi, produksi, produktivitas dan mutu genetik ternak. Perkawinan melalui teknologi IB mempunyai beberapa keuntungan antara lain:

1. Efisiensi penggunaan pejantan, satu kali ejakulasi dapat mengawini banyak betina.

2. Menghemat waktu dan biaya karena pejantan tidak diharuskan dibawa ke tempat yang diperlukan.

3. Mencegah kawin keluarga/sedarah (inbreeding).

4. Sperma dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.

5. Menghindari ternak/hewan tertular penyakit.

6. Mengoptimalkan penggunaan pejantan unggul dalam jangka waku yang lama dan penyebarannya lebih luas.

Minat dan animo peternak cukup tinggi, hal ini terlihat dari adanya permintaan IB domba Sapudi yang cukup tinggi yang selama ini belum dapat terlayani walaupun Jawa Timur merupakan barometer IB nasional, hal ini terkendala oleh tidak adanya semen beku domba Sapudi sementara teknologi, bahan, sarana prasaana dan peralatan IB serta SDM sudah tersedia.

Berdasarkan pertimbangan tersebut Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur melalui UPT IB bertekad untuk tahun 2014 ini permintaan para peternak untuk dapat di Inseminasi dengan domba Sapudi harus terlayani. Untuk mewujudkan tekad tersebut segera dilaksanakan untuk menjaring pejantan domba Sapudi yang akan ditampung spermanya guna diproses semen bekunya.

Selanjutnya dengan bekerjasama dengan BBIB Singosari maka pada saat ini sudah dapat diproduksi semen beku domba Sapudi sebanyak 1.408. Semen beku domba ini sudah terakreditasi dan memenuhi standar SNI serta ISO, sehingga masalah tidak adanya semen beku domba Sapudi sudah teratasi. Dan di Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sudah tersedia semen beku domba Sapudi dimaksud siap untuk memfasilitasi keinginan masyarakat agar dapat dilayani inseminasi dengan domba Sapudi.

Diharapkan dengan sudah diproduksinya dan tersedianya semen beku domba Sapudi akan mampu memberikan pelayanan dan fasilitasi kepada masyarakat dengan lebih baik dan sekaligus mampu mendukung peningkatan budidaya domba Sapudi sebagai salah satu alternatif pengganti daging sapi serta dalam rangka upaya pelestarian dan pengembangan domba Sapudi sebagai sumber daya genetic hewan (SDGH) ternak lokal Jawa Timur. (Adv/Eri)

Leave a Reply


*