03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Mahasiswi Ubaya Ciptakan Multimedia Interaktif untuk Terapi Autis

Devi dan Yolanda menemani Jason bermain multimedia.
Devi dan Yolanda menemani Jason bermain multimedia.

Surabaya, KabarGress.Com – Mahasiswi Program Studi Multimedia Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Devi Oktaviani Effendy, membuat aplikasi berbentuk multimedia interaktif sebagai media terapi untuk anak autis berusia 5 tahun ke atas.

Berawal dari keprihatinannya terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Devi tergerak untuk membantu para ABK kemudian merumuskannya ke dalam sebuah aplikasi melalui Tugas Akhir S1 yang berjudul ‘Multimedia Interaktif sebagai Terapi Visual, Bermain, dan Musik untuk Autisme’.

Berdasarkan studi literatur dan interview yang dilakukannya dengan seroang terapis dari Alejo Academy Surabaya, Devi memperoleh informasi mengenai bagian dalam terapi yang dapat dimultimediakan, metode terapi yang sesuai, dan hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses pembuatannya. Pilihan akhirnya jatuh pada pembuatan aplikasi bagi anak autis berjudul ‘AKU BISA’.

Program ini dibuat berdasarkan pertimbangan terhadap keterbatasan terapi yang umumnya harus dilakukan di tempat terapi, membutuhkan biaya yang relatif mahal, dan keberadaan media terapi berbentuk aplikasi yang masih menggunakan bahasa Inggris. Hadir pula seorang ibu dan anak penyandang autis yang akan menjadi user dari aplikasi ini.

“Media terapi ini dirancang agar orangtua dapat mendukung proses terapi anaknya secara mudah dan murah di rumah. Apalagi menurut penelitian, peran orangtua dalam terapi terbukti lebih efektif dalam perkembangan anak autis dibanding peran guru maupun terapis. Jadi menurut saya, akan membantu sekali apabila orangtua dapat mendampingi anaknya menggunakan media terapi tambahan ini di rumah secara berulang, begitu juga dengan para terapis di tempat terapi,” ujar Devi, saat merilis karyanya, bertempat di Seminar Room Gedung International Village Kampus II Ubaya Tenggilis Jalan Kalirungkut Surabaya, Selasa (15/7/2014).

Karya yang diperuntukkan bagi anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan komunikasi, interaksi sosial, konsentrasi, motorik, perilaku, pola bermain, emosi, dan aktivitas imajinasi ini didesain dengan memperhatikan kebutuhan dan keterbatasannya sebagai pengguna. Warna, bentuk, tipografi, dan suara menjadi elemen penting yang wajib diperhatikan selama pembuatan aplikasi.

Agar semakin membantu, tersedia narasi suara yang selalu muncul ketika ada informasi yang perlu disampaikan di setiap tampilannya. Tema ‘Rumah’ yang diterapkan dalam aplikasi ini juga dinilai penting, karena rumah merupakan lingkungan yang paling dekat dan perlu dikuasai oleh anak autis sebelum mereka meluaskan interaksinya di luar.

“Software yang dibuat Devi ini sangat baik ditinjau dari aspek desain, interaktifitas maupun metode terapi yang dipakai dalam software itu sendiri. Harapan saya, software ini bisa digunakan sebagai salah satu alat bantu terapi bagi anak autis yang dapat digunakan di rumah maupun di tempat terapi,” ungkap Lisana, S.Kom., M.Inf.Tech selaku Dosen Pembimbing II.

Program multimedia karya Devi ini memiliki tiga menu utama yang terangkai dalam satu media yaitu aktivitas, permainan, dan musik. Aktivitas dalam aplikasi ini meliputi kegiatan sehari-hari yaitu mandi, buang air, gosok gigi, makan, tidur, dan berpakaian. Menu ini berfungsi untuk melatih anak autis belajar mandiri dan patuh terhadap instruksi. Sementara menu permainan meliputi angka, bentuk, ekspresi, puzzle, dan konsentrasi.

Dalam menu permainan, disertai juga tutorial yang memberi informasi pengenalan setiap obyek sebelum anak autis melakukan permainan. Sedangkan menu musik terdiri atas irama riang dan tenang yang menjadi terapi musik untuk mengiringi aktivitas-aktivitas anak autis, baik selama menggunakan aplikasi ini, maupun ketika melakukan aktivitas lain.

Multimedia interkatif ini telah diuji cobakan kepada tiga kelompok responden. Ketiganya adalah para terapis di tiga tempat terapi di Surabaya (Gembira Ria, AGCA, dan Cakra Autism), dua orangtua anak autis, dan dua anak autis yang didampingi orangtuanya. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi ini telah tervalidasi sebagai media terapi tambahan baik di rumah dan di tempat terapi, sambil dilakukan pengembangan lebih lanjut terkait pengembangan materi dan karakter secara lebih mendetil ke depannya.

Sementara itu, Jason Marcelino (6), penyandang autis yang mencoba karya Devi, tampak asyik dengan alat terapi tersebut. Siswa kelas TK B ini memainkan multimedia dengan tenang meskipun banyak kamera foto maupun handycam merekam setiap tingkah polahnya. “Memang untuk komunikasi lebih banyak lewat media visual satu atau dua kali sebelum dia bisa menyebutkan kemauannya. Dan alat ini sangat membantu anak kami,” ujar Yolanda Siau, mama dari Jason. (Ro)