Pemkot Akan Memperkejakan Warga Terdampak Dolly di Seluruh SKPD

Pemkot Akan Memperkejakan Warga Terdampak Dolly di Seluruh SKPDSurabaya, KabarGress.Com – Penutupan lokalisasi Dolly Kelurahan Putat Jaya Kecamatan Sawahan berdampak pada hilangnya mata pencaharian warga setempat. Diperkirakan, ada sebanyak 600 warga yang kehilangan pekerjaan setelah lokalisasi terbesar di Indonesia itu ditutup Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Namun, Pemkot akan mempekerjakan mereka disejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Deddy Sosialisto mengatakan, saat ini ada sebanyak 50 warga dari Dolly yang mengajukan menjadi tenaga kontrak di Pemkot Surabaya. Dari jumlah itu, yang memenuhi syarat dan bisa diterima sebanyak 38 orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 24 orang akan dipekerjakan di Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas). Sisanya sebanyak 14 orang ditempatkan di Dinas Sosial, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas-KB), Dinas Kesehatan (Dinkes) serta instansi yang lain.

Di dinas-dinas ini, warga yang kehilangan pekerjannya difungsikan sebagai tenaga administratif maupun sebagai sopir. “Kami pekerjakan mereka dengan sistem kontrak. Dalam setahun sekali akan dilakukan perbaruan kontrak,” katanya.

Deddy menambahkan, warga terdampak yang menjadi tenaga kerja di Pemkot Surabaya merupakan warga di usia produktif. Kisarannya usia 50 tahun kebawah. Selain memberi lapangan pekerjaan, pihaknya juga memberi sejumlah pelatihan ketrampilan. Setidaknya, ada sebanyak 178 pengajuan pelatihan ketrampilan ini.

Diantaranya ketrampilan membuat kue, menjahit dan sejumlah ketrampilan lainnya. Dalam pelatihan ini, pemkot juga dibantu sejumlah lembaga seperti Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) dan Personal Social Responsibility (PSR). “Bagi yang sudah kontrak kerja dengan Pemkot, maka mereka akan menerima gaji sesuai dengan UMK (Upah Minimum Kota) Surabaya, yakni sebesar Rp2,2 juta,” terangnya.

Salah satu warga terdampak, Totok Basuki Rahmat dari Lokalisasi Dupak Bangunsari mengatakan, pihaknya sebelum diterima di Linmas, bekerja sebagai petugas keamanan di wisma lokalisasi. Setelah lokalisasi Dupak Bangunsari ditutup pemkot, dia mengajukan diri bekerja di pemkot dengan status kontrak.

Saat ini, oleh pemkot dia ditempatkan di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos). Lantaran sudah menjadi bagian dari aparat pemerintah, akhirnya dia juga terlibat dalam penutupan sejumlah lokalisasi, termasuk Dolly. “Selama proses penutupan lokalisasi banyak warga terdampak yang diterima kerja di pemkot. Baik Klakahrejo, Sememi dan Dupak Bangunsari. Dengan penutupan lokalisasi ini, Dupak menjadi lebih baik. Perekonomian warga juga semakin meningkat,” klaimnya.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemkot Surabaya M Fikser mengakui bahwa, pemkot tidak akan mampu menampung semua warga terdampak untuk mendapat pekerjaan. Akhirnya, pemkot bekerja sama dengan sejumlah perusahaan swasta agar turut membantu penyerapan tenaga kerja bagi warga terdampak penutupan lokalisasi.

Saat ini, sudah ada beberapa warga yang diterima sebagai sopir disalah satu perusahaan swasta. Yang diutamakan pemkot dalam penyerapan tenaga kerja ini adalah yang sudah berkeluarga. Status pendidikan juga berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang ditawarkan. Orang lulusan SMA dengan sarjana, pekerjaan yang ditawarkan akan berbeda. “Kami ingin sampaikan, setelah penutupan lokalisasi, kami tetap berupaya agar warga terdampak bisa tetap mendapatkan pekerjaan,” terangnya. (tur)

Leave a Reply


*