03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Horeee…! PLTMH Watupanjang Mulai Dibangun

* Diresmikan Bertepatan Hari Listrik Nasional 2014

Peletakan batu pertama pembangunan PLTMH Krucil di Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.
Peletakan batu pertama pembangunan PLTMH Krucil di Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.

Probolinggo, KabarGress.Com – Masyarakat Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo patut bernafas lega. Dalam waktu dekat mereka akan menikmati aliran listrik menyusul dimulainya proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di daerah tersebut. Peletakan batu pertama dilakukan Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jawa Timur, Arkad Matulu, Ketua Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS), Suroso, Kepala Desa Watu Panjang, Kus Junaedi dan tokoh agama Kecamatan Krucil, Kamis (26/6/2014).

“Proyek ini terwujud berkat program Corporate Social Responcibility (CSR) PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur. Kami telah memulai proses pembangunan yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada bak penenang yang berukuran 3 X 6 meter dengan kedalaman 6 meter,” ungkap Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jawa Timur, Arkad Matulu, di sela-sela acara.

Arkad mengaku cukup senang dengan respon warga Desa Pesapen terhadap program pembangunan PLTMH Watupanjang. Ini ditunjukkan dengan kerja bakti yang dilakukan warga di kawasan pembangunan PLTMH. ”Warga desa sendiri yang melakukan kerja bakti sehingga tidak perlu mendatangkan pekerja untuk mempersiapkan akses menuju lokasi pembangunan. Antusiasme yang tinggi dan keinginan kuat dari warga inilah yang mendorong kami membantu mewujudkan warga desa terhadap pembangunan PLTMH Watu Panjang,” tandas Arkad.

Menurut Arkad, pembangunan PLTMH Watupanjang ini memiliki tujuan antara lain mencerdaskan generasi berikutnya, mendorong ekonomi warga desa serta membantu warga desa terpencil yang tidak terjangkauan jaringan PLN. Selama ini, warga desa termasuk anak-anak hanya menggunakan lampu minyak tanah. Jika PLTMH selesai dibangun, anak-anak akan lebih giat belajar dan beraktivitas dengan lampu yang terang menderang dari listrik yang dihasilkan PLTMH.

Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jawa Timur, Arkad Matulu (kiri), bersama Ketua Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS), Suroso (kanan), di sela-sela acara peletakan batu pertama PLTMH Watupanjang.
Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jawa Timur, Arkad Matulu (kiri), bersama Ketua Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS), Suroso (kanan), di sela-sela acara peletakan batu pertama PLTMH Watupanjang.

Adanya PLTMH juga otomatis akan membantu kegiatan ekonomi warga desa. Mereka tidak lagi tinggal dalam ‘kegelapan’. Namun yang terpenting dari pembangunan PLTMH Watupanjang, lanjut Arkad, adalah tindak lanjutnya dan dampak ke depannya. Ada beberapa PLTMH yang ‘mandeg’ begitu selesai dibangun seperti terjadi di Lumajang dan Malang. Ini disebabkan beberapa hal seperti ketersediaan air yang menjadi bahan baku utama PLTMH.

Begitu musim kemarau, tidak ada airnya. Padahal turbin harus terus berjalan, jika berhenti lama-lama bisa rusak dan kinerja di rumah turbin tidak maksimal dan terganggu. Untuk PLTMH Watupanjang ini, sebelumnya sudah melalui survei cukup matang termasuk pasokan air pada saat musim kemarau.

”Kami optimistis dengan menggandeng Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS), PLTMH Watupanjang bisa beroperasi berkelanjutan seperti halnya PLTMH di Mojokerto dan Blitar yang juga dikelola YLHS. Kami sudah kerjasama dengan YLHS sejak 2007. Selain itu, kami berharap YLHS juga mendampingi warga desa tidak hanya sebatas proyek PLTMH tapi juga mengembangkan sektor ekonomi seperti pengembangan produk organik,” terangnya.

Disebutkan Arkad, pembangunan PLTM Watupanjang Probolinggo ini merupakan proyek yang diusulkan ke PLN Pusat tahun 2013. Proyek senilai Rp520 juta ini ditargetkan bisa selesai dan diresmikan tepat pada Hari Listrik Nasional 27 Oktober 2014. ”Mudah-mudahan GM PLN bisa meresmikan tepat Hari Listrik Nasional,” timpal Arkad.

Sementara itu, Ketua YLHS, Suroso, menjelaskan pembangunan PLTMH Watupanjang ini diawali dari bak penenang. Bak penenang ini berfungsi agar tidak ada gelembung udara sebelum air yang disalurkan dari Kali Watu Parang masuk ke penstoke. Proses penyelesaian bak penenang ini butuh waktu 3 minggu. Setelah itu dilanjutkan pembangunan Rumah Turbin dimana pengecoran kering minimal 20 hari. Mengingat prosesnya lama, pembangunan bak penenang dan Rumah Turbin dilakukan paralel.

Sedangkan untuk turbin yang akan dipasang di Rumah Turbin sudah dipesan. ”Pemasangan turbin meliputi perakitan, pemasangan generator dan Eletric Load Control (ELC). “Kami pastikan PLTMH Watupanjang siap beroperasi pada Oktober mendatang,” ujar Suroso optimis.

Ditambahkan, kapasitas produksi PLTMH Watupanjang ini sebesar 25 KwH dan listriknya akan dimanfaatkan oleh 62 KK Dusun Pesapen, Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo dengan daya antara 250-450 watt per keluarga. Besaran debit air Sungai Guyangan mencapai 750 liter per detik.

Pembangunan PLTMH di Probolinggo ini diawali dengan observasi tentang potensi energi listrik mikro hidro dari aliran Sungai Guyangan yang berada di lereng bawah Dusun Pesapen, Desa Watupanjang. Keberadaan masyarakat desa yang cukup jauh masuk ke dalam hutan dan minimnya infrastruktur jalan sehingga tidak bisa diakses oleh semua jenis kendaraan menyebabkan tidak masuknya jaringan listrik umum oleh PLN.

Pembangunan PLTMH sudah diawali dengan melakukan kerja bakti bersama warga Dusun Pesapen pada pertengahan Mei 2014. Tahap awal dilakukan dengan melakukan pembuatan saluran pembawa air dari bendung intake menuju bak penenang sepanjang 200 meter. (ro)