22/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Ubah Dolly Tak Semudah Balik Telapak Tangan

Surabaya, KabarGress.Com – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadikan lokalisasi Dolly dan Jarak untuk tempat perindustrian dan perdagangan, nampaknya masih sangat sulit terwujud. Walaupun lokalisasi konon terbesar se – Asia Tenggara itu sudah ditutup secara resmi oleh pemkot pada 18 Juni 2014 yang lalu, nyatanya tempat haram tersebut masih beroperasi.

Walaupun ada yang pro atau setuju dengan penutupan lokalisasi itu, namun sebagaian besar para Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari, dan warga terdampak tetap menolak dan masih bertahan di area Dolly dan Jarak. Faktanya, dari sejumlah PSK yang berjumlah 1449, dan 311 mucikari, hanya sekitar 297 yang menerima dana kompensasi dari pemkot Surabaya pada Senin (23/6/2014).

Data tersebut disebutkan langsung oleh Kabid Perencanaan dan Prasarana fisik, Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko), Dwijaya Wardhana. Dirinya menyatakan, memang sampai saat ini (senin), PSK yang mengambil dana stimulan masih terbilang sedikit, hal itu disebutkan dari data yang masuk di Bappeko.

“Kami memang berencana untuk membangun eks lokalisasi itu menjadi tempat yang lebih terhormat dan tidak bertentangan dengan hukum agama. Agar kesan sebagai tempat lokalisasi secara perlahan bisa hilang. Dan yang terpenting adalah bagaimana memberdayakan para pekerja seks komersial dan masyarakat setelah dolly ini ditutup,” terangnya.

Dwijaya mengungkapkan, sebelumnya memang Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dari pemkot Surabaya sudah mengadakan progam – progam pelatihan kepada para PSK, mucikari dan warga terdampak berupa pelatihan untuk menjalankan bisnis yang positif sebelum penutupan. Pemkot akan menyediakan modal kepada masyarakat dolly untuk berdagang dan membantu untuk memasarkan kepada publik.

“Memang kami ingin menjadikan wisma yang ada di lokalisasi dolly dan jarak menjadi ahli profesi dan ahli fungsi, misalnya mendirikan sentra – sentra PKL, dan sentra usaha. Kemudian mendirikan sarana pendidikan, seperti PAUD, dan perpustakaan. Dan juga berencana akan mengubah wisma sebgai gedung serbaguna, misalnya Balai pertemuan untuk masyarakat disana, kan hal itu lebih baik,” paparnya.

Dwijya menambahkan, salah satu wisma terbesar di lokalisasi dolly yaitu “Barbara” memang menyepakati untuk menutup wismanya dan dijadikan tempat untuk hal yang lebih positif. Nantinya juga akan diadakan pembinaan progam religius kepada masyarakat sekitar, agar lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Wisma tersebut memang sebelumnya sudah direncanakan untuk gedung multi fungsi. Dimana Luas bangunan wisma itu 2.300 persegi dan ada 6 lantai.

“Untuk lantai satu akan kami jadikan lahan parkir, lantai dua sebagai balai pertemuan untuk masyarakat melakukan aktifitas sosial, dan lantai tiga untuk TK. PAUD, sedangkan untuk lantai empat, lima dan enam, akan kami jadikan sentra usaha. Dengan hal ini, kami mengharapkan agar masyarakat disana bisa hidup dengan layak,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Surabaya, Agustin Poliana mengatakan, seharusnya ada beberapa hal yang harus dicermati oleh pemkot sebelum melakukan penutupan dolly dan jarak. Pasalnya, jika melihat kebelakang seperti penutupan yang sudah dilakukan sebelumnya di lokalisasi Sememi, Tambak asri, dan Kelakah Rejo nyatanya masih beroperasi.

“Saya berharap jangan hanya melakukan pelatihan – pelatihan saja kepada para masyarakat, tapi harus bisa menyalurkan ke publik secara luas agar hasil pelatihan tersebut bisa difungsikan. Karena itu adalah mata pencaharian mereka semua, jangan sampai mereka tidak mendapatkan hasil apa – apa dari pelatihan itu,” jelasnya. (tur)