03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo: Batasi Guru Asing Harus Ada Perda Guru

Surabaya, KabarGress.com – Untuk menghalau atau membatasi tenaga asing masuk ke Provinsi Jawa Timur, khususnya pengajar atau guru. Maka pemerintah provinsi Jawa Timur mengusulkan pada DPRD untuk membahas dan membuat Perda Pengaturan Guru.

Pernyataan itu disampaikan Pakde Karwo saat memberikan pengarahan pada acara Konferensi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur Tahun 2009- 2014, di Utami Hotel Sidoarjo, (21/6/2014).

Dikatakan, ke depan adanya Perda Pengaturan Guru sangat penting, apalagi tahun 2015 mendatang adalah mulai berlakunya pasar bebas atau pasar global. Jadi negara manapun akan dengan mudah masuk ke Indonesia atau ke negara lain dimana tempat tersebut dipandang dapat menampung dan menerima tenaga mereka sesuai dengan keahlian yang mereka miliki.

Untuk itu, lanjut Pakde, agar Jatim bisa membatasi tenaga asing masuk dan menyerbu peluang yang ada di Jawa Timur, maka Pemerintah Jawa Timur minta DPRD yang sekarang ini masih belum ganti untuk segera membuat Perda Pengaturan Guru. Tujuannya sudah pasti yaitu melindungi keberadaan guru-guru pribumi dan membatasi masuknya tenaga pengajar dari luar atau asing.

“ Sebab, bila tidak ada pagar yakni Perda Pengaturan Guru otomatis tenaga-tenaga asing akan masuk ke Jatim dan menutup kesempatan untuk kita,“ jelasnya.

Isi Perda itu sendiri, tambahnya, hendak dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menghambat para tenaga asing ke Jatim. Seperti, syarat tenaga asing (guru) yang mau masuk ke Jawa Timur, pertama harus bebas (lulus) dari penyakit tropis, kedua faseh berbahasa Indonesia/daerah dan budaya lokal. Itu syarat mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Kalau Perda untuk kesehatan sudah diluncurkan di Jatim, tinggal Perda Pengaturan Guru yang belum dibuat. Saya ingin sebelum anggota DPRD ganti dengan DPRD yang baru, Perda Pengaturan Guru sudah bisa diluncurkan. Semua ini dibuat semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga guru lokal,” tambahnya.

Begitu juga untuk guru-guru lokal, mereka juga harus meningkatkan pengetahuan mereka tentang pendidikan budaya lokal seperti bahasa ibu dan pendidikan bahasa daerah. Karena dengan begitu keahlian yang dimiliki guru-guru lokal itu dapat menghambat tenaga asing masuk Jatim. ”Ke depan, bahasa lokal menjadi penting di pendidikan utamanya di Jatim,” tegasnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Pakde Karwo, minta pada PGRI Jatim dan UNESA dalam waktu dekat harus sudah membuat satu konsep yang tampak dan bisa menghambat masuknya tenaga asing ke Jatim. Ini penting dan harus guru sendiri yang membuat konsep biar sinkron dan pasti.

Selain konsep untuk menghambat tenaga guru asing masuk ke Jatim, PGRI dan UNESA juga harus mengusul satu program bagaimana agar SMK kita bisa bertarung dengan ASEAN bisa menang. Sebab, sampai saat ini baru 23 SMK masuk dalam standart nasional, dan lainnya belum. Pertanyaannya kenapa begitu? (Eri)