03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Tahun Ini Pemprov Jatim Bangun 70 SMK Mini

Dr. KH. Abdul Ghofur dan Pakde Karwo bersalaman usai menyampaikan orasi pembekalan pada prosesi wisuda.
Dr. KH. Abdul Ghofur dan Pakde Karwo bersalaman usai menyampaikan orasi pembekalan pada prosesi wisuda.

Lamongan, KabarGress.com – Pemprov Jatim akan membangun sebanyak 70 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Mini yang dimulai tahun ini sebagai salah satu upaya menyiapkan tenaga terampil menghadapi persaingan Asean Economic Community (AEC) 2015. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo dihadapan 1.000 wisudawan/wati MTs, SMP Negeri 2, MMA, MA, SMK Sunan Drajat di Bumi Damai Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat Banjaranyar, Paciran Kab. Lamongan, Rabu (18/6/2014).

Ia mengatakan, SMK mini akan mampu menciptakan tenaga kerja yang siap untuk bertarung dalam AEC 2015 mendatang. “Pemprov Jatim akan membangun 70 SMK mini pada tahun ini, angka tersebut akan bertambah pada tahun depan. Salah satu metode, pengajaran di SMK mini yakni menciptakan tenaga kerja formal yang siap bekerja sesuai kompetensi,” ungkapnya.

Pakde Karwo sapaan akrabnya menjelaskan, keberadaan SMK Mini ini akan mendukung pemerintah dalam menyiapkan tenaga formal agar mampu bersaing di pasar bebas. “Kita tidak akan mengirimkan tenaga informal seperti pembantu rumah tangga lagi. Akan tetapi, keberadaan tenaga ini akan di akreditasi ke tingkat Internasional yang nantinya dikirim ke luar negeri sehingga mendapatkan perlindungan hukum dari kedutaan besar,” terangnya.

Ia menjelaskan, SMK Mini ini akan fokus pada program kewirausahaan. Jurusan yang diminta oleh masyarakat yakni jurusan otomotif, binis manajemen, pertanian, kelautan, IT, perikanan, perkebunan dan kehutanan serta pariwisata.

Dicontohkan, untuk jurusan otomotif dalam satu kelas akan dibantu oleh Pemprov Jatim sebanyak Rp. 240 juta/paket. Tahun depan, dari 800 SMK Mini yang dibantu bersama SMK yang ada, dapat menghasilkan lulusan yang mampu menciptakan tenaga kerja sebanyak 80.000 orang yang siap bertarung di AEC 2015.

Di hadapan wisudawan yang hadir, Pakde Karwo menegaskan, dalam menghadapi AEC 2015 Jatim akan membuat kebijakan melalui Peraturan Daerah (Perda) terkait aturan yang berlaku jika tenaga kerja dari luar negeri masuk ke Jatim.

Perda tersebut mengatur aturan jika tenaga kerja bidang kesehatan dari luar negeri harus memenuhi syarat yakni menguasai penyakit tropis. Aturan lainnya, jika tenaga kerja asing yang masuk diharuskan mampu menguasai Bahasa Indonesia dan bahasa daerah tempat dia bekerja.

Contoh lainnya, di bidang pendidikan. Tenaga pendidik yang masuk ke Jatim, tidak serta merta harus menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa asing yang berlaku. Namun, guru atau tenaga pendidik asing yang masuk ke Jatim harus menyesuaikan dengan cara mengajar dari daerah di Jatim.

“Jika perlu, pada saat dia praktek di Madura atau daerah lainnya di Jatim bisa berkomunikasi menggunakan bahasa daerah tersebut. Kita tidak menahan tenaga kerja asing yang masuk di Jatim, namun justru dengan Perda tersebut akan melindungi masyarakat dari pasar yang berlaku dan Jatim akan memproteksi hal tersebut,” imbuh Pakde Karwo yang diberi apresiasi tepuk tangan dari wisudawan yang hadir.

Sementara itu, dalam menyampaikan Orasi Ilmiahnya yang bertema “Ilmu Pondasi Umat” Pakde Karwo menjelaskan, bahwa Ilmu sebagai pondasi umat memiliki makna yang mendalam di kehidupan generasi muda saat ini.

Pakde Karwo mengistilahkan, jika ahlak bagus namun tidak memiliki kecerdasan dan kepintaran akan mudah dibohongi. Akan tetapi, pintar tidak memiliki akhlak akan dapat menyalahgunakan aturan dan wewenang yang ada. Maka dari itu, ilmu sebagai pondasi umat basisnya harus mengedepankan ilmu pengetahuan dan akhlak yang cukup.

Ilmu pengetahuan adalah bagian penting dari dasar kebangkitan umat islam. Agama Islam terbiasa berdamai dengan kebiasaan atau kultural yang ada di Indonesia jika di Ponpes Sunan Drajat dikenal dengan ASWAJA (Ahli Sunnah Wal Jamaah). “Ponpes Sunan Drajat dalam mamajukan pendidikannya selalu menyeimbangkan antara ilmu, agama dan menggabungkan budaya yang ada sehingga santrinya tetap hormat dan menghargai kepada guru, ustad dan kiainya,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Dr. KH. Abdul Ghofur mengatakan, Ponpes Sunan Drajat ini merupakan salah satu pusat dari pendidikan agama islam terbesar di Indonesia.

Ia menjelaskan, Sunan Drajat adalah pondok yang didirikan oleh para wali songo yang mengajarkan pendidikan agama disertai penekanan akhlak yang baik. “Kami mengajarkan disiplin dan pendidikan agama secara terdidik dan berkualitas. Jika santri kami tidak melakukan Sholat Subuh, merokok atau bermain HP tidak pada tempatnya maka akan diberi hukuman seperti dimasukkan di sel atau diperingatkan,” tegasnya.

Kiai Ghofur minta kepada Pemprov Jatim untuk lebih memperhatikan keberadaan Ponpes yang telah mencetak lulusan santri-santri yang berkualitas. “Saya minta bantuan Pak Gubernur untuk terus memikirkan keberadaan Ponpes Sunan Drajat karena di sinilah kami belajar ilmu agama dan pendidikan ahlak terbaik. Islam terbanyak di Indonesia berada di Pulau Jawa yakni di Jatim, sedangkan pemeluk Agama Islam paling banyak di Jatim yaitu di Kab.Lamongan tepatnya di Ponpes Sunan Drajat,” pungkasnya. (Eri)