03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pembebasan Lahan Hambat Percepatan Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik

Direktur Utama (Dirut) PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), Amir Rosidin, saat memberikan sambutannya di acara silaturrahim dengan Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, di kantor PT PJB Jl Ketintang Baru 11, Selasa (17/6/2014).
Direktur Utama (Dirut) PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), Amir Rosidin, saat memberikan sambutannya di acara silaturrahim dengan Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, di kantor PT PJB Jl Ketintang Baru 11, Selasa (17/6/2014).

Surabaya, KabarGress.Com – Proses pembebasan lahan yang berlarut-larut maupun susahnya pengurusan perijinan di pemerintah daerah, berdampak negatif terhadap pelaksanaan proyek pembangunan pembangkit listrik yang dilakukan PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) mengalami perlambatan. Demikian diungkapkan Direktur Utama PT PJB, Amir Rosidi, di kantor PJB di Surabaya, Selasa (17/6/2014).

Menurutnya, kondisi perlambatan proses pembangunan pembangkit ini akan menyebabkan cadangan listrik berkurang, saat ini masih aman dikisaran 25%, namun akan turun menjadi 20% di 2017. “Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati di Jawa Tengah hingga kini juga belum kelar. Karena lahan yang dibutuhkan belum utuh. Diperkirakan, kekuranagan lahan yang belum terealisasi sebesar 15%. Sementara, target proyek PLTU itu beroperasi pada 2017. Akibatnya, proyek PLTU akan mengalami kemunduran dalam pengoperasiannya. Diperkirakan proyek PLTU akan operasi di 2018-2019,” terangnya.

Sebagai contoh, pada kasus pembebasan lahan di Jateng, dari harga tanah normal sebesar Rp15.000 per meter persegi, investor sudah mau membeli dengan harga Rp100.000 per meter persegi. Tetapi dalam perjalannya, ada sebagian kecil masyarakat yang tidak mau melepas dan meminta ganti rugi sebesar Rp400.000 per meter persegi. “Ini kan sudah tidak wajar,” cetusnya.

Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Niaga PJB, Muljo Adji AG, mengatakan hingga kini pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Gas (PLTMG) yang memiliki kapasitas 3 Mega Watt (MW) Bawean Gresik, Jatim dipastikan beroperasi akhir bulan ini. Pembangunan PLTG Bawean Gresik yang menelan dana Rp30 miliar untuk kebutuhan listrik pada masyarakat Bawean Gresik, saat ini hanya menggunakan genset yang berbahan BBM sebagai tenaga listrik. “Nanti akan dilakukan perubahan pemakaian bahan pembangkitnya,” ujar dia.

Muljo menjelaskan, konsumsi kelistrik masyarakat Bawean  hanya berkisar 1 Mega Watt (MW) itupun hanya dengan batasan waktu tertentu. Namun, konsumsi kelistrikan di pulau tersebut mencapai 3,5 MW. “Kenaikan maga watt-nya saat sore hingga pagi karena pelanggan masyarakat di sana adalah rumah tangga saja,” sebut Muljo.

Pembangunan PLTMG Bawean sebagai pilot project PJB untuk membantu PLN mengurangi tingkat konsumsi BBM dalam proses produksi. Jika dalam pengoperasiannya berhasil, maka PJB akan mengembangkan di beberapa kepulauan kecil di sekitar Madura dan Lombok serta di kepulauan lain.

“Karena kami masih harus mempelajari soal distribusi gas yang menjadi bahan bakarnya. Untuk di Bawean, kebutuhan Compressed Natural Gas (CNG) sebesar 2 mmscfd akan disuplai dari PLTG Gresik dengan menggunakan kapal. Ini yang harus kami pelajari lebih dahulu, sebab terkadang jalur laut ke Bawean tidak bisa dilalui, karena ombak sangat tringgi. Bulan apa kami harus menyetok CNG,” imbuhnya. (ro)