22/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Barisan Bintang Merah Ancam Bubarkan Deklarasi

* Siap Mati Tolak Penutupan Dolly dan Jarak

FPLSurabaya, KabarGress.Com – Pelaksanaan deklarasi penutupan Dolly dan Jarak mendapat ancaman serius dari para PSK, mucikari serta warga terdampak. Pasalnya, mereka yang tergabung dalam Barisan Bintang Merah siap membubarkan deklarasi yang akan dilakukan di Islamic Center Surabaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) pukul 19.00 WIB.

Koordinator Barisan Bintang Merah, Saputro, mengaku sudah menyiapkan 500 massa untuk membubarkan pelaksanaan deklarasi. Tak tanggung-tanggung, ratusan orang itu siap berhadap-hadapan dengan aparat kepolisan, bahkan mereka siap mati untuk menolak penutupan Dolly dan Jarak.

“Tuntutan kami jelas, tidak ada deklarasi penutupan. Karena tidak ada kejelasan mau dibawa kemana setelah ditutup. Tidak ada satupun pemerintah yang datang kesini untuk berbicara mencari solusi bersama,” jelasnya, Selasa (17/6/2014).

Menurutnya, meski deklarasi dilakukan tidak akan berpengaruh terhadap aktifitas Dolly dan Jarak. Para mucikari akan tetap membuka wismanya. Begitu pula dengan para PSK juga siap bekerja. “Kami tidak takut dengan ancaman dari pemerintah melalui aparat kepolisian. Memang, kecuali bulan puasa, kita menghormati orang Islam, kita akan tutup,” katanya.

Dia memastikan tidak satupun dari mucikari, PSK, dan warga yang akan datang pada deklarasi nanti. Selain tidak mendapat undangan dari pemkot surabaya, mereka sampai kapanpun akan menolak penutupan. Salah satu alasannya adalah keberadan Dolly dan Jarak menjadi sumber pendapatan banyak orang.

Saputro menegaskan, mulai Rabu besok, pukul 06.00 WIB massa Barisan Bintang Merah akan memblokir semua akses masuk ke Dolly dan Jarak. Hal itu sebagai bentuk perlawanan dan perang terhadap pemkot Surabaya. Blokir pintu masuk itu otomatis akan melokalisir semua orang yang akan menggunakan jalan menuju lokalisasi.

Artinya, selain warga Putat Jaya dilarang masuk. Tak terkecuali wartawan yang akan meliput juga dilarang masuk. Penjagaan ketat ini tentu tidak ada koordinasi dengan aparat kepolisian. “Ndak perlu, mestinya polisi yang koordinasi dengan kita, kita ndah usah koordinasi dengan polisi, buat apa koordinasi,” tegasnya.

Saputro yang kerap dipanggil Pokemon menyatakan, blokir jalan itu dilakukan sampai batas yang tidak ditentukan. “Pokoknya sampai kita menang, kita akan perang dengan pemerintah, kalau pemerintah batal deklarasi berarti kita menang dan massa Barisan Bintang Merah akan kita tarik,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang pemilik wisma Aniek mengecam aksi licik dari pemerintah. Baru-baru ini pemerintah memberikan sembako gratis serta uang yang besarannya mulai Rp100 ribu-Rp200 ribu. Pemberian kepada warga itu supaya mereka ikut dalam pelaksanaan deklarasi besok malam.

Dia menambahkan, sampai detik ini tak ada satupun kesepakatan antara warga dengan pemerintah. Isu pemberian kompensasi juga belum ada bentuknya. “Kalaupun nanti ada uang kompensasi, tetap akan kita tolak, pokoknya kita tolak penutupan lokalisasi,” jelasnya.

Ketua RW XI, Sutohari, mengancam akan menanggalkan jabatannya bila pemkot benar-benar merealisasikan rencananya. Ancaman itu diikuti oleh empat RW terdampak. Artinya, Ketua lima RW terdampak, yakni III, VI, X, XI, XII siap mengundurkan diri. “Pemkot tidak ada sosialisasi kepada warga saya, saya akan mundur kalau ditutup,” tegasnya. (tur)