29/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Komnas HAM: Pemkot Harus Pertimbangkan Dahulu Sebelum Menutup Dolly

Pemkot Harus Pertimbangkan Dahulu Sebelum Menutup Dolly 1Surabaya, KabarGress.Com – Para Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari, dan warga terdampak, terus menggalakkan upaya penolakan menjelang penutupan Dolly yang kurang beberapa hari lagi. Terbaru, Front Pekerja Lokalisasi (FPL) mengadakan dialog terbuka dengan mengundang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Kamis (12/6/2014).

Komisioner Komnas HAM, Dianto Bahriadi, mengatakan penutupan lokalisasi Dolly yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini, dinilai melanggar UU tentang HAM. Sebab, penutupan tersebut terkesan dipaksakan tanpa ada kesepakatan dan koordinasi yang dilakukan antara pemkot dengan para PSK serta warga.

“Kalau memang rencana ini dilakukan tanpa ada sosialisasi dan dialog antara warga dengan pemkot, berarti penutupan ini melanggar. Kecuali hal ini disetujui dan disepakati semua pihak, berarti penutupan ini sudah sah dan bisa dilakukan,” ucapnya.

Dianto menegaskan, jika penutupan ini tetap dipaksakan tanpa mengindahkan masyarakat, baik PSK, mucikari dan warga maka hal ini sangat berpotensi melanggar UU. Menurutnya, pemkot seharusnya bisa membaca situasi ini, sebelum benar-benar menutup lokalisasi terbesar se Asia Tenggara.

Pemkot Harus Pertimbangkan Dahulu Sebelum Menutup Dolly“Saya menghimbau kepada pemkot Surabaya, agar mempertimbangkan dahulu matang-matang sebelum melakukan penutupan. Agar tidak menciptakan pelanggaran dan kerugian yang dialami masyarakat sekitar,” himbaunya.

Sementara itu, Ketua RW 12, Ngadiman, menuturkan dirinya diisukan setuju penutupan Dolly dilakukan oleh pemkot. Padahal ia merasa tidak pernah berbicara hal seperti itu. Menurutnya, memang ada pihak yang sengaja untuk mengadu domba antara dirinya dengan para warga terdampak.

“Kami ini bisa hidup ya dari tempat ini. Tidak mungkin saya sepakat dengan penutupan ini. Kalau Dolly ini ditutup bagaimana nanti nasib para tukang parkir, dan warga terdampak yang lain. Pokoknya saya tetap menolak penutupan ini, sampai kapanpun. Jika perlu saya berada di garis depan untuk menolak penutupan,” teriaknya, saat pidato di atas panggung. (tur)