04/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Mahasiswa Ubaya Ciptakan Organizer PMR

Mahasiswa S2 Farmasi Ubaya, Indah Yuliawati, S.Farm., M.Farm-Klin., Apt (kanan), menunjukkan Organizer PMR karyanya.
Mahasiswa S2 Farmasi Ubaya, Indah Yuliawati, S.Farm., M.Farm-Klin., Apt (kanan), menunjukkan Organizer PMR karyanya.

SURABAYA, KabarGress.Com – Sebagian pasien penyakit kronis dan para tenaga kesehatan, khususnya di Surabaya, mendapat angin segar yang bertiup dari Apotek Ubaya. Buku konseling kesehatan pasien Apotek Ubaya yang berkembang menjadi kartu rekaman kesehatan, kini telah bermetamorfosis menjadi Organizer Personal Medication Records. Berbentuk organizer berisi informasi terkait riwayat medis dan terapi obat pasien, instrumen kesehatan ini telah teruji validitas dan efektivitasnya melalui penelitian tesis yang dilakukan seorang mahasiswa S2 Farmasi Ubaya, Indah Yuliawati, S.Farm., M.Farm-Klin., Apt.

Karya organizer PMR ini dirilis di Seminar Room Gedung International Village Kampus Tenggilis Universitas Surabaya jalan Raya Kalirungkut, pada Rabu (11/6/2014).

Pasien dengan penyakit kronis (menahun) cenderung berobat ke berbagai dokter dan mengonsumsi bermacam obat untuk meningkatkan kesehatannya. Tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan obat juga cenderung rendah akibat ketidaksabaran pasien dalam menghadapi penyakitnya yang membutuhkan jangka waktu lama, maupun kurangnya keterlibatan pasien dan atau keluarganya dalam memberikan informasi pengobatan dan motivasi kepada pasien.

“Hal ini berpotensi memunculkan masalah penggunaan obat, baik dari efek samping obat, maupun interaksi obat yang dikonsumsi pasien. Oleh karena itu, diperlukan pencatatan medis yang melibatkan pasien maupun tenaga kesehatan untuk menjamin keselamatan pasien tersebut,” ujar Indah, sapaan akrab peneliti.

 

Organizer Personal Medication Records menjadi jawabannya

Tak hanya berfungsi sebagai perekaman riwayat medis, organizer ini juga menjadi fungsi kontrol penggunaan obat agar aman, efektif, tidak merugikan dan tidak memunculkan masalah penggunaan obat oleh pasien. Terbukti efektif, dari sejumlah pasien Apotek Ubaya, para apoteker dan dokter di Surabaya yang menjadi subjek penelitian kuantitatif sekaligus informan penelitian kualitatif oleh Indah, menunjukkan adanya penurunan medication error yang meliputi kesalahan dokter dalam penulisan resep obat (prescribing) maupun penggunaan obat oleh pasien yang menggunakan organizer ini. Pasien, apoteker dan dokter juga memiliki persepsi positif terkait penerimaan organizer ini bagi keselamatan pasien dan peningkatan sistem pelayanan kesehatan.

“Ketika organizer ini sempat ditunjukkan ke dokter oleh patien yang dicatat medical recordnya, dokter tersebut merasa terbantu, sehingga dapat mengkontrol efek samping penggunaan obat dan interaksi obat yang dikonsumsi patien,” tambah dosen pembimbing yang juga Apoteker Apoteker Ubaya, Lisa Aditama, S.Si., M.Farm-Klin., Apt. (Ro)