04/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo: Negara Harus Intervensi Pertanian untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Gubernur Soekarwo saat menyampaikan pandangannya terkait dengan kebijakan di sektor pertanian di acara  Rembug Utama.
Gubernur Soekarwo saat menyampaikan pandangannya terkait dengan kebijakan di sektor pertanian di acara Rembug Utama.

Malang, KabarGress.com – Negara, dalam hal ini pemerintah harus mengintervensi pertanian untuk mewujudkan kemandirian pangan. Intervensi tersebut melalui regulasi, strategi, dan inovasi yang tepat dan berpihak pada petani dan nelayan. Dengan begitu, swasembada pangan akan tercapai serta petani dan nelayan juga semakin meningkat kesejahteraannya.

“Kita bisa mencapai negara swasembada. Caranya, negara harus mengurus mulai dari on farm hingga out farm pertanian” kata Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo saat membuka Rembug Utama Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional XIV 2014 di Pendopo Kepanjen, Kabupaten Malang. Kamis (5/6/2014).

Pada kesempatan itu, Ketua KTNA Nasional, Winarno Tohir memberikan tanda kehormatan penghargaan kepada para kepala daerah yang berjasa kepada kelompok KTNA. Yakni penghargaan Lencana Adi Bakti Tani Nelayan Utama kepada Gubernur Jatim, Pakde Karwo, selain itu juga disematkan untuk Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, dan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan.

Strategi pertama yang diterapkan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim adalah dengan mendirikan bank perkreditan khusus bagi petani, yakni Bank Tani. Bank yang didanai APBD dan direncanakan mulai beroperasi pada 2015 tersebut memberikan kredit ringan bagi petani hanya sebesar 6% setahun, jaminannya melalui Jamkrida dan diasuransikan oleh pemda.

“Bank ini menjamin petani untuk bercocok tanam, kemudian Bank ini juga linked program dengan bank-bank lain. Kami juga bekerjasama dengan pemkab/kota untuk memberikan kredit bagi petani. Jadi ketika petani panen gabah kering, jangan dijual dulu, kami akan berikan modal agar petani bisa mengolahnya sehingga punya nilai tambah” katanya.

Strategi tersebut diperkuat oleh regulasi yang bertujuan untuk melindungi harga produk hortikultura lokal. Yakni Pergub No. 2 Tahun 2013 yang mengatur impor barang-barang pertanian. Pergub tersebut melarang barang-barang impor diperdagangkan saat musim panen tiba.

“Kami tidak melarang impor barang, tetapi ketika musim panen tiba, maka garam, bawang merah, beras, dan barang-barang pertanian impor lainnya harus dimasukkan ke dalam gudang lalu disegel. Ini harus diterapkan, kalo tidak, mati petani kita. Jangan biarkan liberalisasi menghancurkan petani kita, negara wajib membela mereka melalui regulasi yang tepat” ujarnya.

Kemudian, untuk efisiesi pasca panen, Pakde Karwo menggunakan alat Combine Harvester. Alat tersebut memungkinkan padi masih dapat dipanen walaupun roboh saat proses pemanenan. “Dengan cara konvensional, saat memotong padi dan di-sub, kemungkinan rontok atau lost-nya sebesar 12%. Dengan alat ini, mampu mengurangi rontoknya hingga hanya 2%. Artinya bisa menaikkan produksi atau efisiensi sebesar 10%” katanya.

Keunggulan lainnya, panen dapat dikerjakan lebih cepat dan hemat waktu (2,5 s/d 3 jam/ha), hemat tenaga kerja, pemanenan dapat dikerjakan malam hari karena dilengkapi lampu penerang. “Alat ini buatan jatim, harganya hanya sekitar 52 juta. Ini lebih bagus dari buatan cina yg harganya mencapai 125 juta” tuturnya.

Pakde juga melakukan inovasi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian Jatim. Yakni dengan menerapkan system rice intensification (SRI) yang berfungsi meningkatkan 30% produktivitas tanaman dengan cara jajar legowo, serta memberikan hibah kepada Gapoktan sebanyak 2269 granulator dan chopper untuk meningkatkan produksi pupuk organik.

“Berkat hibah tersebut, penggunaan pupuk organik dalam pertanian Jatim mencapai 56%. Cara kerjanya, Chopper yang merajak, kemudian granulatornya yang membuat butiran-butiran agar gampang disebar. Jika ingin melihat lebih dekat, dapat disaksikan dalam pameran Penas” katanya.

Selain itu, Pakde Karwo juga berupaya meningkatkan indeks pertanaman melalui perbaikan saluran irigasi. Yakni dengan cara memperluas sumur air sedalam 100 m di sawah-sawah Jatim. “Perbaikan saluran irigasi juga penting, sebab jika petani harus menyewa pompa yang harganya mahal untuk menyedot air dengan dari tanah jika tidak ada air. Jangka pendeknya, kami memperluas sumur air dengan dalam 100 meter, jangka panjangnya yakni membangun embung dan bendungan” katanya.

Strategi lainnya adalah terus memperkuat perdagangan antar provinsi dalam negeri untuk mewujudkan kemandirian pangan. Jawa Timur sudah membuka 26 perwakilan dagang di 26 provinsi, tujuannya untuk menekan harga dengan mengangkut produk pertanian dan sumber daya alam lain dari provinsi yang dituju.

Mendukung gagasan Pakde Karwo terkait dengan kemandirian pangan, Gubernur Jawa Barat,
Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara harus membela petani. Salah satunya dengan membangun sebanyak 5 juta ha lahan sawah baru di Indonesia. “Satu petani mendapat jatah 2 hektare, sehingga akan menghidupi 10 juta keluarga petani” katanya.

Di bagian lain, Menteri Pertanian, Suwono mengatakan bahwa dalam 5 tahun masa tugasnya
sebagai menteri. Pihaknya mengaku banyak kontribusi yang diberikan oleh petani meski tantangannya sangat berat. Oleh sebab itu, ia berterima kasih dan berpesan agar para petani tetap bersemangat untuk membantu pemerintah mewujudkan kemandirian pangan.

“Kami akan memberikan masukan kepada capres RI berikutnya tentang pengalaman kami selama lima tahun menjadi Menteri Pertanian, kami juga memberi masukan terkait hasil dari Rembug Utama ini untuk membangun pertanian Indonesia kedepan” tuturnya.

Sementara itu, Ketua KTNA Nasional, Winarno Tohir mengatakan, dalam Rembug Utama akan ditentukan tuan rumah Penas berikutnya. Pekan KTNA XIV Nasional akan dilaksanakan selama 7-12 Juni 2014 akan dibuka oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada Sabtu (7/6/2014) diikuti oleh 33 Provinsi dan 506 kabupaten/kota se-Indonesia. (Eri)