04/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo Paparkan Dua Kunci Menangkan Persaingan AEC 2015

Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberi ceramah tematik pada peserta Diklatpim II Angkatan XXXIII, di Balai Diklat Provinsi Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberi ceramah tematik pada peserta Diklatpim II Angkatan XXXIII, di Balai Diklat Provinsi Jawa Timur.

Surabaya, KabarGress.Com – Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo memaparkan dua kunci agar bisa memenangkan persaingan dalam Asean Economic Community (AEC) 2015. Dua kunci tersebut adalah masyarakat Jatim harus memiliki daya saing yang kuat, dan penguasaan pasar dalam negeri. Hal tersebut Gubernur Jatim itu saat memberikan Ceramah Tematik pada Diklatpim Tingkat II angkatan XXIII, Diklatpim Tingkat III angkatan X dan XI dan Diklat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Prov. Jatim di Badan Diklat Prov. Jatim, Jl. Balongsari Tama, Surabaya, Selasa (4/6).

Ia menjelaskan untuk berperan dalam AEC 2015, dua hal tersebut menjadi hal yang paling penting. Jatim dituntut untuk memiliki daya saing yang kuat. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa meningkatkan daya saing tersebut, salah satunya adalah membangun SMK Mini.

Dengan mendirikan SMK mini, akan diciptakan tenaga kerja yang siap untuk bertarung dalam AEC 201. Pemprov Jatim berencana membangun 70 SMK mini pada tahun ini, dan angka tersebut akan bertambah pada tahun depan. Metode yang diajarkan di SMK mini adalah menciptakan tenaga kerja formal yang siap bekerja dan diberikan materi khusus selama enam bulan. “Pastinya, SMK Mini menciptakan tenaga kerja formal yang diberikan perlindungan hukum di dunia. Pada tahun 2015 ditargetkan akan tercipta 80 ribu tenaga kerja yang berasal dari SMK Mini,” tambahnya.

Selain mendirikan SMK mini, juga dipersiapkan para tenaga kerja untuk diberikan keterampilan khusus di Balai Latihan Kerja (BLH) Plus. Berbagai upaya tersebut adalah upaya untuk membuat tenaga kerja dari Jatim memiliki standarisasi yang siap bekerja dan memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan pada pasar AEC 2015.

Untuk bisa bersaing pada AEC 2015, pengusaha Jatim juga harus bisa melakukan penguasaan pasar dalam negeri. Salah satu wujud upaya penguasaan pasar dalam negeri adalah meningkatkan nilai ekspor dan mengurangi nilai impor Jatim. Komposisi ekspor dan impor masih menjadi  persoalan. Beberapa produk ekspor Jatim sebagian besar masih berupa bahan mentah, sedangkan  impornya sebagian besar adalah barang jadi. “Sebenarnya, untuk meningkatkan nilai ekspor, bahan mentah harus diolah terdahulu di Jatim sehingga nilainya akan meningkat. Apabila hal tersebut bisa terjadi, pasar dalam negeri sanggup dikuasai Jatim. Dengan demikian menandakan Jatim siap menghadapi AEC 2015” jelas Pakde Karwo sapaan akrabnya.

Ia mencontohkan, salah satu meningkatkan nilai ekspor adalah dengan mengolah bahan baku yang akan diekspor dengan membangun smelter. Sehingga nantinya nilai ekspornya bernilai. Pemprov Jatim berencana membangun beberapa smelter di Jatim diantaranya di Situbondo untuk cluster ferronikel, di Lumajang untuk cluster tembaga, emas dan biji besi, di Gresik dan Tuban untuk cluster ferronikel dan tembaga. “Setidaknya, akan dibangun lima smelter di beberapa daerah di Jatim. Itu untuk menekan nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor,” tegasnya.

Pemprov Jatim juga akan membuat kebijakan umum untuk pembangunan Jatim dimana dibagi ke beberapa perspektif, diantaranya perspektif masyarakat dimana akan dibuat program yang didesain guna meningkatkan kesejahteraan untuk semua lapisan masyarakat, perspektif proses internal yaitu meningkatkan profesionalisme SDM untuk meningkatkan pelayanan public, perspektif kelembagaan yaitu mengimplementasikan reformasi birokrasi, dan perspektif keuangan yaitu optimalisasi desain kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja daerah dan kebijakan pembiayaan daerah.

Selain itu, kemandirian pangan juga menjadi fokus bagi Pakde Karwo. Kedepan akan dilakukan upaya peningkatan indeks pertanaman (IP) di Jatim, dari 1,83 menjadi 2,30, merencanakan inseminasi buatan satu jtua ekor sapi untuk memenuhi defisit kebutuhan daging nasional sebesar 132 ribu ton/tahun atau setara dengan 780 ribu ekor sapi. “Selain itu, akan dibangun floodway plangwot yang berguna mengurangi bencana banjir akbiat luapan Sungai Bengawan Solo, juga bisa digunakan untuk mengaliri sawah yang memiliki IP sebesar satu, sehingga kedepannya IP-nya bisa meningkat menjadi tiga. Secara tidak langsung para petani akan menikmati hasil panen lebih banyak,” tambahnya.

Untuk peningkatan pelayanan publik, tiap tahunnya Pemprov Jatim selalu memberikan pelayanan terbaik diantaranya dengan membangun Pelayanan Perijinan Terpadu (P2T) yang memberikan kepastian syarat, waktu dan biaya bagi investor yang ingin menanamkan modal di Jatim. “Pemprov Jatim memberikan government guarantee bagi para investor diantaranya tersedianya laham, power plan , perijinan yang dipermudah dengan online tracking system, dan tersedianya tenaga kerja,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama Pakde Karwo meminta para pejabat eselon di lingkungan Pemprov Jatim untuk memperhatikan isu strategis pembangunan tahun 2015 dimana terdapat beberapa hal utama yakni melambatnya pertumbuhan ekonomi, kemandirian pangan, ketidak seimbangan struktur impor, dan peningkatan layanan publik. “Beberapa hal tersebut harus menjadi perhatian serius para pejabat di lingkungan Pemprov Jatim. Indikasinya adalah pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” pintanya.

Ia menjelaskan isu melambatnya pertumbuhan ekonomi merupakan imbas dari makro ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Sampai dengan triwulan I tahun 2014 pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,21 persen, sedangkan Jatim sebesar 6,4 persen. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi sehingga mengurangi inflasi di Jatim. “Beberapa strong point kegiatan sebagai upaya pengendalian inflasi diantaranya subsidi ongkos angkut, aksi taktis pengendalian impor hortikultura, sidak pasar, pengembangan akses informasi produksi dan harga, mengurangi asimetri informasi melalui telivisi, pasar rakyat bulog, melaksanakan pasar murah, penguatan produksi kedelai,” paparnya. (eri)