21/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Ekonomi Islam sebagai Paradigma Baru Tangkal Kapitalisme

Sekdaprov Jatim menyerahkan cinderamata kepada Dekan Fakultas Peradaban Islam University Technology of Malaysia, Prof. Madya Dr. Hussin Bin Salamon, di Grahadi.
Sekdaprov Jatim menyerahkan cinderamata kepada Dekan Fakultas Peradaban Islam University Technology of Malaysia, Prof. Madya Dr. Hussin Bin Salamon, di Grahadi.

Surabaya, KabarGress.Com – Ekonomi Islam (Islamic Economics) sebagai paradigma baru dalam peradaban dunia untuk menangkal kapitalisme. Kemajuan paradigma baru ini diharapkan dapat memberi kontribusi signifikan terhadap peradaban manusia. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. H. Akhmad Sukardi, MM saat Welcoming Reception International Conference on Islamic Economics and Civilization (ICIEC) di Gedung Negara Grahadi, Selasa (3/6) malam.

Ia menuturkan, peran dunia barat, berbagai lokomotif dan ikon kapitalisme telah menyebabkan unsur-unsur negatif dan mempengaruhi dimensi kemanusian. Dampak yang dapat dirasakan seperti terjadinya benturan peradaban dan krisis global. Untuk itu, perlu muncul ekonomi islam untuk mengatasi hal bahaya kapitalisme.

Sukardi menyampaikan, terdapat paradigma baru di kalangan para ahli yang dapat mendefinisikan rasionalitas hidup berdasarkan nilai-nilai ilahiah dan kemanusiaan dengan menyoroti konsep ekonomi islam. “Ekonomi islam telah mengalami kebangkitan selama beberapa dekade terakhir ini di banyak negara dan Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, perlu disadari ekonomi islam masih berada pada tahap awal pengembangan, sehingga ekonomi konvensional masih tetap menjadi rujukan bagi upaya untuk membangun dan mengembangkan perekonomian.

Mengenai pentingnya ekonomi islam, Sukardi mengatakan, Pemprov Jatim menyambut positif penyelenggaraan konferensi ini. Penyelenggaraan ICIEC tahun 2014 ini sangat baik dilakukan. Selain sebagai ajang silaturahim di kalangan ulama, pakar, birokrat, dan praktisi ekonomi islam, konferensi ini juga sangat penting untuk membahas berbagai perkembangan yang terjadi dalam dunia ekonomi khususnya yang berbasis syariah islam, serta isu-isu yang berkembang saat ini.

“Kita menunggu konsep dan pemikiran mengenai isu-isu ekonomi islam dan peradaban dari para pakar ekonomi islam yang berasal dari berbagai negara untuk dibahas, didiskusikan, dan dianalisis secara kritis. Mudah-mudahan resolusi dan rencana aksi dari konferensi ini akan memberikan kontribusi baik secara nasional maupun internasional,” harapnya.

Sementara itu, Jatim sangat terbuka dengan seluruh peserta delegasi ICIEC dari Indonesia maupun luar negeri. Di Jatim, terdapat berbagai aneka macam kuliner dan batik. Diharapkan para peserta dapat menikmati kenikmatan kuliner dan batik khas Jatim seperti Batik Madura. “Mudah-mudahan Jatim membawa kesan tersendiri bagi seluruh peserta. Semoga tiga hari ke depan, Jatim bisa memberikan kepuasan bagi para peserta baik dari tempat konferensi, obyek wisata, keramahan masyarakat, hingga kulinernya,” ujarnya.

Konferensi ini bertema “Strengthening Islamic Economics for the World Civilization atau Perkuatan Ekonomi Islam / Syariah bagi Peradaban Dunia”. ICIEC diikuti sebanyak 150 orang dari perwakilan perguruan tinggi se-Indonesia maupun luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Nigeria, dan Iran. (eri)